metode penelitian sosial inisiasi 4



INISIASI 4
VALIDITAS DAN REABILITAS
Saudara mahasiswa pada inisiasi yang lalu kita telah mendiskusikan tentang materi populasi dan teknik penentuan sampel. Setelah sampel ditentukan, maka langkah selanjutnya adalah memperoleh data dari orang-orang yang telah ditetapkan sebagai sampel. Untuk itulah, kita akan mendiskusikan tentang pengumpulan data dalam penelitian sosial. Pengumpulan data  sangat penting peranannya dalam menentukan keberhasilan kegiatan penelitian karena jika data yang dikumpulkan dengan alat yang salah, maka bisa dipastikan hasil penelitian yang diperoleh akan salah. Oleh karena itu, bagaimana memperoleh alat (instrument penelitian) yang benar dan valid akan kita diskusikan dalam materi validitas dan reliabilitas.

A. Validitas
Vailiditas berasal dari bahasa Inggris ”validity” yang berarti keabsahan. Validitas dapat juga diartikan sebagai kesesuaian antara indikator dengan konsep. Dalam penelitian, keabsahan sering dikaitkan dengan instrumen atau alat ukur. Suatu alat ukur dikatakan mempunyai nilai validitas tinggi apabila alat ukur tersebut benar-benar dapat mengukur apa yang hendak diukur. Misalnya, jika kita ingin mengukur tinggi badan, maka alat ukur yang digunakan adalah meteran; jika ingin mengukur berat badan, maka alat ukur yang digunakan adalah timbangan. Pengukuran semacam ini relatif mudah dilakukan karena obyeknya konkrit.

Namun, berbeda dengan obyek penelitian sosial yang biasanya berwujud abstrak dan seringkali memiliki makna yang luas, sehingga pengukuran lebih sulit dilakukan. Misalnya pengukuran sikap politik perempuan perkotaan di Indonesia. Untuk bisa mengukutnya dengan tepat, maka kita harus menyusun instrumen atau alat ukur sedemikian rupa sehingga dapat mengukur sikap politik perempuan perkotaan di Indonesia.

Caranya, pertama-tama kita harus merumuskan siapakah yang dimaksud dengan perempuan perkotaan. Atau dengan kata lain kita harus terlebih dahulu membuat defenisi operasional tentang konsep ”perempuan perkotaan”. Misalnya, apakah perempuan yang sudah berkeluarga, yang masih lajang, yang bekerja, atau yang tidak bekerja? Jika misalnya kita menentukan bahwa yang dimaksud perempuan perkotaan yang sudah berkeluarga dan bekerja, maka berarti kita telah mengubah konsep yang abstrak menjadi konkret dengan memberikan pembatasan pengertian konsep ”perempuan perkotaan”. Dengan demikian, secara teoritik alat ukur yang digunakan dapat dikatakan valid apabila didesain untuk mengukur sikap politik perempuan perkotaan yang sudah berkeluarga dan bekerja (sesuai defenisi operasional kita tentang perempuan perkotaan).

Kemudian, kita harus membuat defenisi tentang pengertian ”sikap politik” yaitu tentang apa yang kita maksud dengan sikap politik.

Setelah konsep kita buat, barulah kita menyusun alat ukur atau instrumen penelitian, yang bisa berbentuk kuesioner, panduan wawancara, dan atau pedoman observasi.

Ada dua aspek yang perlu diperhatikan dalam melakukan validitas, yaitu ketetapatan dan ketelitian. Alat ukur penelitian dikatakan tepat apabila benar-benar mengukur konsep konkrit yang ditetapkan, dan dikatakan teliti jika dapat menampilkan fakta sebenarnya yang ada di lapangan.

Validitas dibagi tiga jenis, yaitu; Pertama, validitas permukaan (face validity) adalah validitas yang dibuat berdasarkan kesan ilmiah peneliti terhadap alat ukurnya, yakni apakah kelihatannya alat ukur tersebut benar-benar mengukur apa yang hendak diukur. Validitas ini biasanya digunakan untuk mengukur konsep sederhana yang dapat langsung dirujuk dengan indikator emperik di lapangan. Misalnya, dengan berkunjung ke rumah seseorang maka kita akan tahu tingkat kepeduliannya terhadap kebersihan. Jika pemilik rumah memiliki kamar mandi yang bersih, maka hal itu bisa dijadikan dasar perkiraan tingkat kepedulian terhadap kebersihan.

Kedua, validitas kriteria (criterion validity), adalah validitas yang diperoleh dengan cara membandingkan alat ukur yang kita buat dengan alat ukur lain yang menggunakan konsep atau kriteria sama. Suatu alat ukur dikatakan valid jika dalam mengukur konsep yang sama menghasilkan hasil yang sama dengan yang diperoleh oleh alat ukur yang dijadikan pembanding. Misalnya, untuk mengetahui pandangan remaja terhadap narkoba, bisa saja peneliti menggunakan kriteria pengetahuan remaja tentang narkoba, dan pandangan remaja di kota besar dan kota kecil. Untuk alat ukur yang digunakan, bisa dilakukan dengan cara melakukan uji coba pengukuran dengan alat lain yang menggunakan kriteria yang sama.

Ketiga, validitas konstrak (Construct validity), sering dikatakan sebagai prosedur validasi yang paling kuat, sehingga tingkat validitasnya juga jauh lebih tinggi dibanding dengan jenis validitas lainnya. Validitas ini digunakan jika konsep yang hendak diukur lebih rumit (dibandingkan dengan konsep yang diukur oleh validitas lainnya) dan terdiri dari banyak dimensi, sehingga diperlukan indikator yang lebih lengkap. Misalnya, dalam penelitian tentang pandangan remaja terhadap narkoba, peneliti memiliki hipotesis bahwa makin negatif pandangan remaja terhadap narkoba (sebagai obat terlarang, bisa merusak syaraf, dan sebagainya) makin kecil kemungkinan remaja tersebut menjadi pengguna narkoba. Dengan alat ukur A, hasil penelitian ternyata mendukung hipotesis, artinya memang ada hubungan antara pandangan remaja dengan kecenderungan menjadi pengguna narkoba. Kemudian peneliti mengembangkan lagi alat ukur B untuk mengukur hal yang sama. Jika hasil penelitiannya menunjukkan hasil yang sama, maka berarti alat ukur memiliki validitas konstruk.

B. Reliabilitas
Reliabilitas berasal dari bahasa Inggris reliability yang berarti kemantapan. Suatu alat ukur dikatakan reliabel jika alat tersebut dipergunakan secara berulang ternyata hasil pengukurannya relatif sama. Reliabilitas alat ukur sangat penting karena menunjukkan ketepatan dan kemantapan suatu hasil penelitian.
Aspek-aspek penting yang perlu diperhatikan dalam melakukan reabilitas adalah; dapat diandalkan (dependable), dapat diramalkan (predictable), menunjukkan ketepatan (precisely).
Ada tiga cara mengukur realibilitas, yaitu; Pertama, metode ulang adalah alat ukur yang sama diberikan atau diujikan kembali pada responden yang sama tetapi pada waktu yang berbeda. Suatu alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi jika hasil dari pengukuran pertama relatif sama dengan hasil pengukuran berikutnya. Jika ada perbedaan hasil pengukuran, maka alat ukur tersebut berarti tidak reliabel.
Kedua, metode paralel, pengujian realibilitas dilakukan dengan dua cara. Cara pertama, pengukuran dilakukan oleh dua orang peneliti dengan menggunakan alat ukur yang sama. Cara kedua, pengukuran dilakukan oleh satu orang peneliti, namun menggunakan alat ukur yang berbeda. Masing-masing cara tersebut mengukur konsep yang sama menggunakan kelompok responden yang sama, dan dilaksanakan pada waktu yang sama. Pada cara pertama, alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi jika hasil yang diperoleh oleh kedua peneliti sama. Pada cara kedua, alat ukur dikatakan memiliki reliabilitas yang tinggi jika hasil pengukuran keduanya sama.
Ketiga, metode belah dua, alat ukur dibagi menjadi beberapa bagian yang berbeda, umumnya dibagi menjadi dua bagian. Bagian-bagian alat ukur tersebut berfungsi untuk mengukur konsep yang sama, artinya setiap bagian harus terdiri dari pertanyaan yang homogen di mana seluruh pertanyaan mengukur faktor atau konsep yang sama. Masing-masing alat ukur tersebut diberi skor dan kemudian dijumlahkan. Hasil kedua skor total bagian tersebut dibandingkan. Jika hasil perbandingan menunjukkan korelasi yang tinggi, maka alat ukur tersebut memiliki reliabilitas yang tinggi. Sebaliknya, jika hasil perbandingan menunjukkan korelasi yang rendah, maka alat ukur tersebut memiliki reabilitas yang rendah.

Daftar Pustaka Tambahan
Aslichati, lilik, 2003. Validitas dan Reabilitas Pengukuran, di muat pada Komunika, terbitan Universitas Terbuka, Nomor 31/Tahun 2003.



metode penelitian inisiasi 3



INISIASI 3

TEKNIK PENARIKAN SAMPEL


Saudara mahasiswa sekarang kita coba membahas modul 5 mengenai populasi dan sampel. Sebagaimana telah kita pelajari dalam modul 1, tujuan utama kita melakukan penelitian adalah untuk mengetahui karakter suatu obyek yang kita teliti. Misalnya, jika kita ingin mengetahui bagaimana sikap masyarakat kota teretentu terhadap lingkungan, maka hasil yang kita harapkan adalah kesimpulan berupa: peduli atau tidak perduli terhadap lingkungan.

Untuk dapat memperoleh kesimpulan ini, ada dua cara yang dapat kita lakukan. Cara pertama, adalah mewawancarai dan mengamati seluruh perilaku warga kota terhadap lingkungan. Cara kedua, kita melakukan wawancara dan observasi hanya pada sebagian warga kota. Jika kita mengambil cara yang pertama, maka berarti kita menggunakan data populasi untuk menarik kesimpulan, sedangkan bila menggunakan cara yang kedua, berarti kita menggunakan data sampel. Perbedaan istilah populasi dan sampel dapat dilihaat pada gambar di bawah ini :

Dalam ilustrasi di atas, dapat kita simpulkan bahwa populasi adalah seluruh warga kota X, sedangkan sampel adalah sebagian warga kota X yang dijadikan obyek penelitian. Dalam arti yang lain, populasi adalah himpunan yang lengkap dari satuan-satuan atau individu-individu yang karakteristiknya ingin kita ketahui. Sementara sampel adalah sebagian anggota populasi yang memberikan keterangan atau data yang diperlukan dalam suatu penelitian. Dengan kata lain, sampel adalah himpunan bagian dari populasi.
                                           
Penggunaan sampel dalam penelitian sosial dilakukan dengan alasan sebagai berikut : (1) Keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti untuk meneliti keseluruhan elemen yang akan diteliti, (2) Berkaitan dengan kualitas data yang akan diperoleh, dan (3) Masalah dana.

Dalam proses penarikan populasi dan sampel, kita harus mengetahui beberapa konsep yang sebaiknya perlu dipahami terlebih dahulu. Konsep-konsep tersebut antara lain:
1. Unit analisa, yaitu satuan yang akan kita teliti
2. Unit observasi, yaitu satuan dari mana kita mendapatkan informasi. 
Kita coba mengambil contoh tentang kasus pemanfaatan jejaring sosial facebook sebagaimana yang saya janjikan minggu yang lalu.  Nah, misalnya, kita akan meneliti tentang ”Dampak pemanfaatan jejaring sosial facebook terhadap hasil belajar  mahasiswa UT.

Dari kasus tersebut, maka kita bisa menentukan:
1. Unit analisanya adalah pemanfaatan jejaring sosial facebook
2. Unit observasinya adalah mahasiswa UT

Setelah kita mengetahui apa perbedaan populasi dan sample, sekarang kita akan melanjutkan diskusi tentang teknik penarikan sampel.

Untuk menambah pemahaman Anda tentang materi ini, Anda dapat juga mempelajari dan memanfaatkan “Program Komputer Penuntun Buku Materi Pokok CD ROM, yang telah Anda terima pada saat memperoleh Buku Materi Pokok  (BMP) ISIP4216.

Sebagaimana telah kita pelajari pada modul 5 KB 1, sebenarnya dalam suatu penelitian kondisi yang ideal adalah peneliti harus meneliti seluruh populasi atau yang kita sebut dengan “total sampling”. Kondisi seperti ini dapat dilakukan jika jumlah populasi yang akan diteliti terbatas atau sedikit.

Ambil saja contoh berikut: Rektor UT ingin mengetahui bagaimana tanggapan pegawai UPBJJ-UT Surabaya terhadap rencana perubahan Organisasi dan Pengelolaan UT menjadi BHPP UT. Di UPBJJ-UT Surabaya terdapat 50 orang pegawai. Dalam hal ini, Rektor bisa melakukan penelitian terhadap seluruh pegawai di UPBJJ-UT Surabaya, karena jumlahnya hanya sedikit.

Anda bisa memandingkan, dengan penelitian berikut. Rektor ingin mengetahui pendapat mahasiswa UT tentang pemanfaatan facebok sebagai media interaksi dalam raangka proses belajar mengajar. Sebagaimana kita tahu bahwa mahasiswa UT berjumlah ratusan ribu dan tersebar di seluruh Indonesia, bahkan hingga di luar negeri. Tentunya untuk melakukan penelitian terhadap seluruh mahasiswa UT tidak semudah melakukan penelitian terhadap seluruh pegawai di UPBJJ-UT Surabaya. Salah satu cara yang dilakukan adalah menarik sebagian dari populasi yang ada untuk mewakili seluruh elemen yang tersedia.

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa alasan perlunya dilakukan penentuan sampel dalam suatu penelitian adalah; (1) adanya keterbatasan yang dimiliki oleh peneliti, jika meneliti seluruh populasi apalagi dalam bentuk yang banyak, (2) untuk menjamin kualitas data yang diperoleh, dan (3) menghemat waktu, tenaga, dan biaya. Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana teknik penarikan sampel dilakukan.

Dalam modul 5 KB 2, kita sudah mempelajari bahwa dalam penelitian sosial terdapat dua macam teknik penarikan sampel, yakni (1) teknik penarikan sampel probabilita, dan (2) teknik penarikan sampel non-probabilita. Teknik penarikan sampel probabilita adalah teknik penarikan sampel yang mendasarkan pada prinsip bahwa setiap elemen di dalam populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel. Sementara itu, teknik penarikan sampel non-probabilita adalah tidak adanya kesempatan yang sama bagi elemen di dalam populasi untuk terpilih sebagai sampel.

Perlu kita pahami bersama teknik penarikan sampel ini dapat menentukan mutu atau hasil akhir penelitian yang kita lakukan. Jika teknik yang digunakan tidak tepat, maka penelitian tersebut dapat dipertanyakan dan kebermaknaannya akan hilang. Oleh karena itu, pengetahuan tentang teknik penarikan sampel sangat diperlukan oleh peneliti. Berikut ini akan dijelaskan prosedur atau langkah-langkah penarikan sampel secara probabilita dan non-probabilita.

A. Teknik Penarikan Sampel Secara Probabilita
Terdapat empat cara yang bisa digunakan di dalam teknik penarikan sampel secara probabilita, yaitu simpel random sampling, sistematis, stratifikasi, dan cluster.

1.     Teknik pengambilan sampel acak sederhana (Simpel Random Sampling)
Sampel acak sederhana adalah sampel yang diambil dari suatu populasi dengan cara tidak memilih-milih individu yang dijadikan anggota sampel. Artinya, semua anggota populasi diberi kesempatan atau peluang yang sama untuk dijadikan sampel. Untuk memahaminya Anda bisa melihat Gambar 1.















 













Gambar 1
Penarikan Sampel Acak Sederhana




Prosedur atau langkah-langkah penentuan sampel secara acak sederhana ini adalah sebagai berikut:
1.    Tentukan populasi yang akan diteliti
2.    Tentukan ukuran sampel yang akan digunakan
3.    Memberikan nomor pada semua anggota populasi
4.    mengambil nomor tersebut secara acak sebanyak sampel yang telah ditentukan pada langkah 2.

Ada dua cara untuk melakukan langkah-langkah tersebut:
(1)   Kita bisa menuliskan nomor-nomor tersebut dalam potongan-potongan kecil kertas dan menggulungnya. Potongan-potongan kertas yang tergulung tersebut kita masukkan ke kotak dan kita cocok sehingga kita tidak mampu lagi mengenali nomor-nomornya. Potongan-potongan tersebut kita ambil secara acak, misalnya dengan cara mengocok sebanyak jumlah sampel yang kita tetapkan. Nomor-nomor yang terpilih itulah yang merupakan nomor individu anggota sampel, dan
(2)   menggunakan tabel bilangan random

2. Teknik penerikan sampel Sistematis (Systematical Sampling)
Teknik penarikan sampel dipilih berdasarkan nomor tertentu dari populasi yang telah diberi nomor urut. Nomor tertentu disini berarti nomor yang telah didisain atau ditetapkan secara sistematis oleh peneliti sehingga selisih atau perbedaan nomor antara setiap dua individu yang diambil selalu tetap. Misalnya, jika peneliti menetapkan bahwa selisih antar dua anggota sampel adalah 6, maka peneliti akan memilih individu yang bernomor 1, 7, 13, 19, dst.



 








                                                                           




Gambar 2
Penarikan Sampel Sistematis


Prosedur penentuan sampel sistematis
  1. Tentukan populasi yang akan diteliti
  2. tentukan ukuran sampelnya
  3. Buat daftar nama atau nomor anggota populasi
  4. Tentukan besarnya interval antara 2 anggota sampel yang berurutan Interval dapat ditentukan dengan cara membagi jumlah anggota populasi dengan jumlah sampel yang dikehendaki.
  5. Tentukan satu anggota sampel yang pertama dari deretan teratas daftar nama/nomor populasi
  6. Sampel kedua, ketiga, dan sterusnya ditentukan dengan menambah besar angka interval.


3. Teknik penerikan sampel secara stratifikasi (Stratified Sampling)
Teknik penarikan sampel stratifikasi digunakan apabila peneliti beranggapan bahwa populasinya bersifat sangat heterogen. Misalnya, peneliti akan melakukan penelitian tentang motivasi mahasiswa UT menggunakan facebook. Peneliti menduga bahwa ada perbedaan motivasi  antara laki-laki dan perempuan, atau antara fakultas ekonomi dengan FISIP. Untu itu peneliti membagi populasi mahasiswa UT ke dalam starata atau subpopulasi berdasarkan jenis kelamin atau berdasarkan fakultas.

Dalam penarikan sampel dengan menggunakan stratifikasi, ada dua cara yang bisa dilakukan oleh peneliti untuk menarik sampel dari masing-masing subpopulasi, berdasarkan pengambilan proporsional dan non-proporsional.

a. penarikan sampel proporsional
Proporsional berarti jumlah masing-masing strata dalam sampel sebanding dengan jumlah masing-masing strata dalam populasinya. Misalnya, kita akan meneliti tentang pemanfaatan facebook pada mahasiswa FISIP UT berdasarkan jurusan. Kita akan menarik sampel sebanyak 100 orang dari populasi dengan karakteristik berikut:

Jurusan sosiologi                            =  25 orang
Jurusan administrasi negara         =  50 orang
Jurusan komunikasi                                  =  75 orang
Jurusan pemerintahan                   =  20 orang
                                                              _________
                                                                170 orang





Dengan demikian, jumlah sampel yang akan diambil dari masing-masing strata adalah:

Jurusan administrasi negara         50/170 x 100 = 29,4             29
Jurusan komunikasi                                   75/170 x 100 = 44,1             44
Jurusan pemerintahan                   20/170 x 100 = 11,7             12
                                                                         ______________
                                                                         Total sampel  100


b. penarikan sampel secara non-proporsional
Teknik ini digunakan untuk menghindari bias yang muncul akibat adanya perbedaan jumlah anggota strata yang terlalu jauh antara masing-masing strata. Jika kita kembali pada contoh di atas, namun dengan sedikit perbedaan. Misalnya dalam jumlah strata jurusan pemerintahan jumlahnya sangat ekstrim, sepeti berikut:

Jurusan sosiologi                            =  25 orang
Jurusan administrasi negara         =  40 orang
Jurusan komunikasi                                   =  75 orang
Jurusan pemerintahan                   =    2 orang
                                                             _________
                                                               142 orang

Jika kita menggunakan cara yang proporsional, maka kita akan mendapatkan hasil sebagai berikut:

Jurusan sosiologi                            25/142 x 100 = 17,6             18
Jurusan administrasi negara         50/142 x 100 = 28,2             28
Jurusan komunikasi                                   75/142 x 100 = 52,8             53
Jurusan pemerintahan                   2/142 x 100 = 1,4                    1
                                                                         ______________
                                                                         Total sampel  100


Dengan cara proporsional, maka jurusan pemerinthn hanya ada 1 orang, sehingga sulit untuk dijadikan perbandingan. Pada kondisi demikian, maka cara non-proporsional sebaiknya digunakan, yaitu dengan cara peneliti mengambil seluruh jurusan pemerintahan yang ada, dan mengurangi strata yang lain.

4. Teknik penarikan sampel cluster (Cluster Sampling)
Teknik penarikan sampel ini digunkan jika kita memiliki keterbatasan dalam menyusun kerangka sampel, mengingat populasi yang ada sangat besar dan tersebar dalam wilayah yang luas. Untuk mengatasi ini peneliti dapat menggunakan beberapa kerangka sampel atau beberapa tahapan penarikan sampel, sampai peneliti dapat menarik sampel yang diinginkan. Hal ini dilakukan dengan cara membagi populasi ke dalam beberpa cluster atau tingkatan.


B. Teknik Penarikan Sampel Secara Non-Probabilita
Teknik penarikan sampel secara non-probabilita dibagi kedalam 4 cara, yaitu; penarikan sampel aksidental, purposive, secara kuota,  dan snowball.

1.    Teknik penarikan sampel aksidental
Teknik penarikan ini digunakan jika populasi penelitian relatif homogen dan peneliti sulit untuk menyusun kerangka sampel. Misalnya, peneliti ingin mengtehaui tentang pendat mahasiswa UT terhadap pelayanan registrasi. Dengan memakai teknik ini, maka peneliti menunggu mahasiswa di bagian pelayanan mahasiswa. Setiap mahasiswa yang datang ke bagian pelayanan mahasiswa akan dijadikan sebagai sampel, sampai sejumlah yang diinginkan.

2.    Teknik penarikan sampel purposive
Teknik ini digunakan dengan menentukan kriteria khusus terhadap sampel, dan dilakukan berdasar pilihan langsung peneliti. Misalnya, peneliti ingin mengetahui efektivitas pembelian bahan ajar melalui Toko Buku Online. Populasi penelitiannya adalah seluruh mahasiswa UT program non pendas yang ada di UPBJJ-UT Surabaya. Penentuan mahasiswa non pendas sebagai populasi penelitian adalah karena saat ini TBO-UT hanya diperuntukkan bagi mahasiswa program non pendas. Teknik penentuan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling, yaitu  pembatasan sampel dengan hanya mengambil unit sampel yang sesuai dengan tujuan penelitian. Artinya, responden dipilih atas kriteria atau pertimbangan yang telah ditetapkan oleh peneliti. Adapun kriteria sampel yang ditetapkan adalah:
a.    mahasiswa UT program non pendas,
b.    pernah membali bahan ajar melalui TBO-UT.

Untuk memperoleh sampel tersebut, peneliti memperolehnya  dari pegawai Toko Karunika UT. Berdasarkan laporan pemesanan dan penjualan bahan ajar dari bulan Januari – Juni 2009, diketahui bahwa jumlah mahasiswa UT yang telah melakukan pembelian bahan ajar dan yang berasal dari UPBJJ-UT Surabaya adalah sekitar 170 orang. Karena jumlahnya relatif sedikit maka semuanya dijadikan sebagai sampel.

3.    Teknik penarikan samepel secara kuota
Teknik ini digunakan oleh peneliti jika populasinya cenderung heterogen dan tersebar luas. Prinsip penarikan sampelnya sama dengan prinsip penarikan sampel di dalam cluster, hanya jika dalam penarikan sampel secara cluster, pemilihan wilayahnya dilakukan secara acak dengan menggunakan undian, maka dalam penarikan sampel dengan menggunakan kuota pemilihan wilayahnya dilakukan dengan cara sengaja.

4.    teknik penarikan sampel snowball
Teknik ini dilakukan jika peneliti ingin mendalami suatu kasus yang sifatnya sensitif sehingga peneliti sulit untuk membuat kerangka sampel. Dalam teknik ini maka peneliti harus membuat suatu jaringan dalam bentuk sosiogram yang melibatkan seluruh objek penelitian. Sesuai dengan namanya, maka peneliti memulai dengan mencari responden dalam kelompok yang kecil, kemudian dari kelompok kecil tersebut, peneliti mendapatkan informasi tentang calon responden berikutnya. Begitu seterusnya sehingga peneliti mendapatkan jumlah responden sesuai dengan yang diinginkan.

Nah, untuk memperdalam pemahaman Anda tentang teknik penarikan sampel, sekarang coba Anda berlatih menentukan sampel dari contoh-contoh berikut:

1.    Cobalah Anda menarik sampel berdasar tabel angka random yang ada pada modul hal : 5.21, jika diketahui jumlah populasi sebanyak 350, dan peneliti akan mengambil sampel sebanyak 35.
2.    Cobalah Anda mengambil sampel dengan menggunakan teknik penarikan sampel sistematis, jika diketahui jumlah populasi sebanyak 1450 dan peneliti akan mengambil sampel sebanyak 450 orang.
3.    Cobalah Anda mengambil sampel dengan menggunakan teknik stratifikasi, jika peneliti ingin meneliti tentang sikap mahasiswa UT terhadap pemanfaatan facebook yang didasarkan pada fakultas, dimana mahasiswa FISIP sebanyak 250 orang, mahasiswa FEKON sebanyak 450 orang, mahasiswa FMIPA sebanyak 112 orang, dan mahasiswa FKIP sebanyak 350. Sampel yang akan diambil sebanyak 150 orang.


Silakan Anda mencoba, ingat lebih baik salah dalam menjawab dan menanggapi pada tuton ini dari pada melakukan kecurangan pada saat UAS.










yang terbaik

No whatsapp jasa karya ilmiah Universitas Terbuka

Untuk no whatsapp nya ganti di 085293796340 Untuk testimoni ada di galeri. Untuk yg lain2 gak tak post krna sdh mulai di rame pembahasan ter...