contoh proposal skripsi yang baik dan benar


KEMENTRIAN PENDIDIKAN DANKEBUDAYAAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
FAKULTAS ILMU SOSIAL
 


PROPOSAL SKRIPSI
NAMA           : WINDRI HARTATI
NIM                : 3101411018
PRODI           : PENDIDIKAN SEJARAH
JURUSAN     : SEJARAH
FAKULTAS  : ILMU SOSIAL

JUDUL :
“ETOS KERJA GURU SEJARAH PASCA SERTIFIKASI DALAM PENGEMBANGAN KEMAMPUAN PROFESIONAL GURU SEJARAH SE-KABUPATEN MAGELANG”.

1.      PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
            Upaya pemerintah untuk terus mengembangkan profesi pendidik sebagai profesi yang kuat dan dihormati sejajar dengan profesi lainnya terlihat dari lahirnya UU No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang berusaha mengembangkan profesi pendidik melalui perlindungan hukum. Pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan profesionalisme guru diantaranya meningkatkan kualifikasi dan persyaratan jenjang pendidikan yang lebih tinggi bagi tenaga pengajar mulai tingkat persekolahan sampai perguruan tinggi. Upaya lain yang dilakukan pemerintah adalah program sertifikasi, dan pembentukan PKG (Pusat Kegiatan Guru, MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), maupun KKG (Kelompok Kerja Guru). Hal yang penting dan perlu dilakukan pemerintah adalah membangun kemandirian di kalangan guru. Kemandirian tersebut akan menumbuhkan sikap profesional dan inovatif pada guru dalam melaksanakan peran dan tugasnya mendidik masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik dan berkualitas.
            Dalam upaya meningkatkan profesionalme guru tersebut maka diberlakukan sertifikasi guru sebagaimana UU RI No. 14 Tahun 2005 yang disahkan pemerintah.Menurut Permendiknas nomor 18 tahun 2007, sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru. Sertifikasi guru terdiri dari dua jenis sertifikasi, yaitu (1) Sertifikasi bagi guru prajabatan (mahasiswa calon guru yang sedang mengikuti pendidikan di perguruan tinggi) dilakukan melalui pendidikan profesi di LPTK yang terakreditasi dan ditetapkan pemerintah diakhiri dengan uji kompetensi, dan (2) sertifikasi guru dalam jabatan (guru yang telah bekerja baik PNS maupun nonPNS) dilakukan sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidkan Nasional Nomor 18 Tahun 2007, yakni dilakukan dalam bentuk (a) uji kompetensi untuk memperoleh sertifikat pendidik (dalam bentuk penilaian portofolio), dan (b) pemberian sertifikat pendidik secara langsung. sertifikasi merupakan upaya yang direncanakan dan dilaksanakan secara sistematis untuk meningkatkan profesionalisme guru dan sekaligus kesejahteraan guru.
            Tujuan dan Manfaat Sertifikasi Menurut Wibowo dalam Mulyasa (2004) sertifikasi bertujuan sebagai berikut :
a. Melindungi profesi pendidik dan tenaga kependidikan
b. Melindumgi masyarakat dari praktik-praktik yang tidak kompeten, sehingga merusak citra pendidik dan tenaga kependidikan
c. Membantu dan melindungi lembaga penyelenggara pendidikan , dengan menyediakan
rambu-rambu dan instrumen untuk melakukan seleksi terhadap pelamar yang kompeten
d. Membangun citra masyarakat terhadap profesi pendidik dan tenaga kependidikan.
e. Memberikan solusi dalam rangka meningkatkan mutu pendidik dan tenaga kependidikan.

Sedangkan menurut Mulyasa (2007: 35) sertifikasi pendidik mempunyai manfaat sebagai berikut:
a. Pengawasan mutu
1) Lembaga sertifikasi yang telah mengidentifikasi dan menentukan seperangkat kompetensi
yang bersifat unik
2)Untuk setiap jenis profesi dapat mengarahkan para praktisi untuk mengembangkan tingkat
kompetensinya secara berkelanjutan
3) Peningkatan profesionalisme guru melalui mekanisme seleksi, baik pada waktu awal
masuk organisasi profesi maupun pengembangan karier selanjutnya
4) Proses seleksi yang lebih baik, program pelatihan yang lebih bermutu maupun usaha
belajar secara mandiri untuk mencapai peningkatan profesionalisme.
b. Penjaminan mutu
1) Adanya proses pengembangan profesionalisme dan evaluasi terhadap kinerja praktisi
akan menimbulkan persepsi masyarakat dan pemerintah menjadi lebih baik terhadap
organisasi profesi beserta anggotanya.
2) Sertifikasi menyediakan informasi yang berharga bagi para pelanggan/pengguna yang
ingin memperkerjakan orang dalam bidang keahlian dan ketrampilan tertentu.
            Tugas dan peranan guru dari hari ke hari semakin berat, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru sebagai komponen utama dalam dunia pendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi bahkan melampui perkembagan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dalam masyarakat. ( Kunandar,2001;37)
            Dalam upaya pembangunan pendidikan nasional, sangat diperlukan guru (pendidik) dalam standard mutu kompetensi dan profesionalisme yang terjamin. Untuk mencapai jumlah guru profesional yang dapat menggerakan dinamika kemajuan pendidikan nasional diperlukan suatu proses pembinaan berkesinambungan, tepat sasaran dan efektif. Proses menuju guru profesional ini perlu didukung oleh semua unsur yang terkait dengan guru. Unsur–unsur tersebut dapat dipadukan untuk menghasilkan suatu sistem yang dapat dengan sendirinyabekerja menuju pembentukan guru-guru yang profesional dalam kualitas maupun kuantitas yang mencukupi.
            Sertifikasi guru menjadi landasan menjamin keberadaan guru yang profesional untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.Pelaksanaan sertifikasi guru diharapkan mampu sebagai solusi berkaitan dengan pencapaian standar guru yang berkualitas dan professional tersebut. Kebijakan Sertifikasi Guru melalui Permendiknas No 18/2007 merupakan salah satu upaya Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dalam rangka meningkatkan kualitas dan profesionalitas guru sehingga pembelajaran di sekolah menjadi berkualitas.
Pendidikan di abad pengetahuan menuntut adanya manajemen pendidikan yang modern dan professional dengan bernuansa pendidikan.lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya secara efektif dengan keunggulan dalam kepemimpinan, staf, proses belajar mengajar, pengembangan. Tidak kalah pentingnya adalah sosok penampilan guru yang ditandai dengan nasionalisme dan jiwa juang, keimanan dan ketakwaan, penguasaan iptek, etos kerja yang disiplin profesionalisme.( Kunandar,2001;12-13)
Dengan ditetapkannya PP Nomor 19 Tahun 2005  tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini juga mensyaratkan adanya kompetensi, sertifikasi, dan kesejahteraan guru. Oleh karena itu dibutuhkan kesejahteraan pribadi dan professional guru yang meliputi; (1) imbal jasa yang wajar dan proposional; (2) rasa aman dalam melaksanakan tugasnya; (3) kondisi kerja yang kondusif bagi pelaksanaan tugas dan suasana kehidupannya; (4) hubungan antar pribadi yang baik dan kondusif ; (5) keputusan jenjang karier dalam menuju masa depan yang lebih baik ( Surya,1999).
Guru professional tidak hanya dituntut untuk menguasai bidang ilmu, bahan ajar, metode pembelajaran, memotivasi peserta didik, memiliki keterampilan yang tinggi dan wawasan yang luas terhadap dunia pendidikan, tetapi juga harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang hakikat manusia dan masyarakat. Hakikat-hakikat ini akan melandasi pola pikir dan kinerja guru, etos kerja guru serta loyalitasnya terhadap profesi pendidikan. Demikian halnya dalam pembelajaran, guru harus mampu mengembangkan budaya dan iklim organisasi pembelajaran yang bermakna, kreatif dan dinamis, bergairah, dialogis sehingga menyenangkan bagi peserta didik maupun guru.
Upaya mempersiapkan guru agar memiliki berbagai wawasan, pengetahuan, keterampilan, dan rasa percaya diri yang tinggi untuk melaksanakan tugas dan kewajibannya sebagai pengemban tugas profesi, merupakan langkah strategis membangun mutu pendidikan.Upaya tersebut perlu dilakukan secara sistematis dan tepat, di samping harus juga berpangkal pada kondisi nyata secara faktual.Artinya, pengembangan atau peningkatan kemampuan profesional guru harus bertolak pada kebutuhan atau permasalahan nyata yang dihadapi oleh guru sesungguhnya.Sejalan dengan kemajuan peradaban manusia, maka dunia pendidikan juga semakin kompleks, yang pada gilirannya membawa tuntutan yang semakin tinggi juga kepada guru untuk senantiasa melakukan berbagai peningkatan dan pengembangan penguasaan kompetensi. Guru dituntut lebih dinamis dan kreatif dalam mengembangkan proses persiapan, pelaksanaan dan evaluasi pembelajaran siswa. Guru dituntut terus menerus mengembangkan kompetensinya untuk mengembangkan profesionalisme, di samping terus berusaha menghindarkan diri dari hal-hal yang tidak sesuai dengan amanat profesinya. Sehingga diyakini, guru dengan kompetensi dan profesionalisme tinggi mampu memberikan pelayanan prima bagi para siswanya.
Menurut Gregory (2003) sejarah membuktikan negara yang dewasa ini menjadi negara maju, dan terus berpacu dengan teknologi/informasi tinggi, pada dasarnya dimulai dengan suatu etos kerja yang sangat kuat untuk berhasil.Maka tidak dapat diabaikan etos kerja merupakan bagian yang patut menjadi perhatian dalam keberhasilan suatu sistem pengajaran oleh guru, terlebih bagi guru yang sudah disertifikasi yang dinyatakan sebagai guru professional.
Cara Menumbuhkan Etos Kerja terhadap guru yang telah disertifikasi antara lain Menumbuhkan sikap optimis, Mengembangkan semangat dalam diri, Peliharalah sikap optimis yang telah dipunyai, Motivasi diri untuk bekerja lebih maju, Keberanian untuk memulai :Jangan takut untuk gagal, Merubah kegagalan menjadi sukses, Menghargai waktu (tidak akan pernah ada ulangan waktu, Jangan cepat merasa puas, Bekerja adalah sebuah panggilan Tuhan. (Khasanah, 2004)
Terkait dengan bagaimana etos kerja yang harus dimiliki oleh seorang guru dalam upaya pengembangan tingkat profesionalnya. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis mengambil judul“ ETOSKERJA GURU SEJARAH PASCA SERTIFIKASI DALAM PENGEMBANGAN KEMAMPUAN PROFESIONAL GURU SEJARAH ”.
1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat diperoleh permasalahan penelitian sebagai berikut :
1.      Bagaimanakah kontruksi sosial guru sejarah terhadap program sertifikasi guru sejarah se-kabupatenmagelang ?
2.      Bagaimanaetos kerja guru sejarah pasca kebijakan sertifikasi guru?
3.      Adakah kesesuaian antara sertifikasi guru dengan kemampuan professional guru sejarah dalam pembelajaran ?

1.3  TujuanPenelitian
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan sebagai berikut :
1.      Mengetahui bagaimana kontruksi guru sejarah terhadap program sertifikasi.
2.      Mengetahui bagaimana etos kerja guru sejarah pasca kebijakan sertifikasi.
3.      Mengetahui kesesuaian sertifikasi guru dengan kemampuan professional guru sejarah dalam pembelajaran.

1.4  Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian yang akan dilakukan diharapkan dapat memberikan manfaat, baik secara teoritis maupun secara secara praktis. Manfaat dilakukannya penelitian ini adalah :
1.4.1        Manfaat Teoritis
            Secara teoritis sebenarnya teori yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teori kebutuhan,karena pada dasarnya etos kerja sesorang itu dilihat dalam pemenuhan kebutuhaannya. Menurut Abraham Maslow, pada dasarnya karyawan bekerja untuk memenuhi kebutuhan yaitu, kebutuhan fisologis, kebutuhan rasa aman, kebutuhan harga diri, dan kebutuhan aktualisasidiri. Kebutuhan kebutuhan itu bersifat hierakis yaitu suatu kebutuhan akan timbul apabila apabila kebutuhan sebelumnya telah terpenuhi. Sehingga etos kerja maupun motivasi seseorang dalam bekerja akan berbeda beda. penelitian ini dapat dijadikan sebagai masukan terhadap temuan-temuan yang telah disusun oleh para ahli berkaitan dengan etos kerja sertifikasi guru sejarah dalam pengembangan kemampuan professional guru sejarah. Diharapkan nantinya hasil temuan dari penelitian ini dapat mendukung riset sebelumnya supaya lebih kuat sehingga dapat dijadikan referensi yang dapat dipertanggungjawabkan.
1.4.2 Manfaat Praktis
            Secara praktis hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dan masukkan bagi :
a.       Bagi Sekolah (Guru)
Dapat memberikan masukan bagi guru sejarah dalam mengembangkan etos kerja guru sejarah terutama guru yang telah di sertifikasi..
b.      Bagi Peneliti
Sebagai wawasan dan pemahaman baru mengenai etos kerja guru sejarah pasca sertifikasi dan juga sebagai patokan atau pegangan bagi peneliti dalam melaksanakan tugas sebagai guru dengan etos kerja yang lebih baik suatu saat nanti.

1.5  Penelitian Terdahulu
Terdapat beberapa penelitian yang relevan dengan studi ini yaitu :
1.      Implementasi kebijakan sertifikasi guru dalam rangka meningkatkan  profesionalitas di Yogyakarta oleh Bachtiar Dwi Kurniawan, yang dikeluarkan oleh Jurusan Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhamadyah Yogyakarta. Tahun 2012
2.      Model instrument pengukuran kinerja untuk guru guru pascasertifikasi dengan scientific and financial performance measure ( SFPM ) oleh Rahmat Resmiyanto, yang dikeluarkan oleh Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Ahmad Dahlan. Tahun 2009
3.      Measuring performance of teacher certification program oleh Kalvin Edo Wahyudi, Supranoto, dan Suji. Dikeluarkan oleh Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jember. Vol. 19 No. 3 September 2012.
4.      Upaya pengembangan profesionalisme guru di Indonesia oleh Mustofa. Yang dikeluarkan oleh jurnal ekonomi dan pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta. Vol. 4 No. 1. April 2007
5.      Peran musyawarah guru mata pelajaran ( MGMP) sejarah dalam pengembangan profesionalisme guru sejarah sma di kabupaten rembang oleh Rini Rianti. Yang dikeluarkan oleh Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang. Tahun 2014
6.      Hubungan Disiplin dengan kinerja guru SMAN di tiga kecamatan depok oleh Sarah Wulan. Yang dikeluarkan oleh STIE ISM. Volume 1 Nomor 2 Juli-Agustus 2013
Relevansi dengan penelitian yang akan dilakukan
Studi yang dilakukan oleh  Bachtiar Dwi kurniawan Penelitian ini dilakukan di Yogyakarta untuk mengetahui implementasi kebijakan sertifikasi guru dalam jabatankhususnya jalur portofolio dalam rangka meningkatkan profesionalime guru. Penelitianimplementasi kebijakan sertifikasi secara khusus ingin melihat sejauh mana proses Implementasi yang dilakukan oleh para implementor dan faktor apa saja yang mempengaruhi implementasi kebijakansertifikasi guru di Kota Yogyakarta. Lebih jauh penelitian ini dimaksudkan untuk melihat dampakdari kebijakan sertifikasi guru terhadap profesionalitas guru di dalam melakukan proses belajarmengajar. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif dengan pendekatandeskriptif. Berdasarkan dari analisa data yang ada, penelitian ini menemukan beberapa hal,diantaranya adalah: pertama, dari segi proses pelaksanaan kebijakan sertifikasi guru baik di tingkatDinas Pendidikan Kota dan LPTK bisa dikatakan berjalan dengan baik dan lancar, cuman ada sedikitpersoalan, keduanya mengalami masalah berkait dengan keterbatasan sarana dan prasaranapendukung. Hal itu terjadi lantaran pemerintah pusat tidak mengalokasikan anggaran untukmensupport pelaksanaan implementasi program.Kedua, dari segi dampak kebijakan, sertifikasi belumada peningkatan profesionalitas guru secara signifikan.Sikap para guru dalam menjalankan kebijakan sertifikasi terlihat hanya mengejar kesejahteraan semata, sementara mutu pengajaran kurang mendapat perhatian.
Studi oleh Kalvin edo wahyudi,supranoto, dan suji. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja program sertifikasi guru di Jember.Fokus penelitian adalah ukuran dari hasil pencapaian sasaran dan dampak yang diharapkan.Hasil pencapaian sasaran diukur dengan analisis deskriptif.Pencapaian dampak yang dimaksud mengacu pada dampak program sertifikasi guru terhadap mutu pendidikan.Pengukuran dampak berisi 3 langkah analisis (komparatif, asosiatif, time series).Data diperoleh melalui “documentary collecting model” di 52 sekolah (SMPN dan SMAN) di Jember.Sampel dipilih berdasarkan prinsip “representativeness” dengan teknik “disproportionate stratified area random sampling”. Hasil dari analisis deskriptif menunjukkan bahwa pencapaian target produksi memiliki kinerja positif yang rendah. Hasil pengukuran dampak menunjukkan bahwa program sertifikasi guru memiliki dampak positif yang rendah terhadap kualitas pendidikan.Jadi, penelitian ini tidak hanya bertujuan untuk mengevaluasi kinerja program sertifikasi guru, tetapi juga untuk menawarkan beberapa model penelitian sederhana untuk mengukur kinerja program (model untuk mengukur hasil pencapaian sasaran dan dampak yang diharapkan).
Studi oleh Rahmat Resmiyanto  tahun 2009.  Dalam program sertifikasi seorang guru harus memenuhi 10 komponen portofolio untuk dapat lolos sertifikasi. Setelah guru lolos sertifikasi, guru akan mendapat tunjangan profesi. Kinerja guru pascasertifikasi selama ini belum diukur, padahal para guru pascasertifikasi mendapat tunjangan profesi.Model yang diajukan dalam makalah ini merupakan pengembangan Scientific and Financial Performance Measure (SFPM).Model instrumen ini berusaha untuk mengukur kinerja guru pascasertifikasi dengan tetap berpedoman pada komponen portofolio.Untuk melenyapkan unsur subjektivitas selama pengukuran maka model berbasis pada capaian luaran ilmiah guru. Kinerja guru akan dinilai menjadi kinerja ilmiah dan kinerja finansial. Kinerja finansial merupakan konversi ekonomi dari kinerja ilmiah sehingga tunjangan profesi dapat dilihat tingkat manfaatnya dalam peningkatan kinerja guru pascasertifikasi. Dari simulasi model yang dilakukan menunjukkan bahwa guru-guru yang aktif menghasilkan luaran ilmiah akan memiliki angka/indeks kinerja yang baik. Model juga dapat mengakomodasi penggunaan tunjangan profesi untuk kinerja ilmiah. Dalam menghasilkan luaran ilmiah, seorang guru mungkin membutuhkan sejumlah uang atau bahkan tidak sama sekali. Pengukuran yang dilakukan dengan model ini menunjukkan bahwa kinerja ilmiah yang dilakukan oleh guru benar-benar dapat dikonversi nominal uangnya dalam persentase.Oleh karena itu, model ini dapat digunakan oleh pemerintah untuk mengukur kinerja guru pascasertfikasi.
Studi oleh Musofa tahun 2007. Dalam upaya pemerintah untuk terus mengembangkan profesi pendidik sebagai profesi yang kuat dan dihormati sejajar dengan profesi lainnya terlihat dari lahirnya UU No 14 tahun 2005 tentang  Guru dan Dosen yang berusaha mengembangkan profesi pendidik melalui perlindungan hukum. Pemerintah telah berupaya untuk meningkatkan profesionalisme guru diantaranya meningkatkan kualifikasi dan persyaratan jenjang pendidikan yang lebih tinggi bagi tenaga pengajar mulai tingkat persekolahan sampai perguruan tinggi. Upaya lain yang dilakukan pemerintah adalah program sertifikasi, dan pembentukan PKG (Pusat Kegiatan Guru, MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran), maupun KKG (Kelompok Kerja Guru). Hal yang penting dan perlu dilakukan pemerintah adalah membangun kemandirian di kalangan guru. Kemandirian tersebut akan menumbuhkan sikap profesional dan inovatif pada guru dalam melaksanakan peran dan tugasnya mendidik masyarakat menuju kehidupan yang lebih baik dan berkualitas.
Studi oleh Rini Rianti penelitian ini mempunyai tujuan untuk mendapatkan suatu gambaran tentang peran MGMP Sejarah dalam pengembangan profesionalisme guru sejarah dengan menggunakan pendekatan kualitatif.Untuk memahami hal itu, perlu dieliti secara mendalam tentang peran MGMP dalam pengembangan pembelajaran sejarah, kontruksi sosial guru sejarah terhadap MGMP sejarah serta peran MGMP dalam pengembangan profesionalisme guru sejarah.Dengan demikian metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus.
Studi oleh Sarah Wulan Kinerja guru adalah sekumpulan perilaku guru yang memberi kontribusi terhadap pencapaian tujuan sekolah.Masalah kinerja merupakan hal penting dalam manajemen karena sangat berkaitan dengan produktivitas lembaga atau organisasi.Kinerja guru ditentukan oleh beberapa faktor di antaranya adalah disiplin.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara disiplin dengan kinerja guru.Penelitian ini dilakukan pada sekolah menengah negeri 3 kecamatan di Kota Depok, Jawa Barat.Metode yang digunakan adalah penelitian survei. Populasi sasaran yaitu 109 orang guru-guru SMA Negeri Kota Depok yang berstatus Pegawai Negeri Sipil, dengan sampel 86 orang. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Hasil penelitian menemukan bahwa: (1) terdapat hubungan positif antara disiplin dengan kinerja. Dengan disiplin yang lebih baik maka kinerja guru pun lebih meningkat. (2) kepala sekolah sebagai manajer dan pemimpin mempunyai peranan penting untuk meningkatkan kinerja guru. (3) masih ada guru yang memiliki disiplin yang kurang sehingga mempengaruhi kinerjanya.



II Kajian Pustaka
2.1  Sertifikasi Guru
2.1.1 Pengertian Sertifikasi Guru
      Lahirnya Undang-Undang No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Dikemukakan bahwa sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat pendidik untuk guru dan dosen. Sedangkan sertifikat pendidik adalah buti formal sebagai pengakuan yang diberikan kepada guru dan dosen sebagai tenaga professional (Mulyasa, 2009:33). Pada dasarnya undang-undang tersebut merupakan kebijakan yang di dalamnya memuat usaha pemerintah untuk menata dan memperbaiki mutu guru di Indonesia. Sertifikasi guru adalah proses pemberian sertifikat pendidik kepadaguru. Sertifikat pendidik diberikan kepada guru yang telah memenuhi standar profesionalguru. Guru profesional merupakan syarat mutlak untuk menciptakan sistem dan praktik  pendidikan yang berkualitas.
      Pengertian sertifikasi ini lebih spesifik yang ditekankan pada suatu proses pemberian pengakuan bahwa seseorang telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan pelayanan pendidikan pada satuan pendidikan tertentu, setelah lulus uji kompetensi yang diselenggarakan oleh lembaga sertifikasi. Dengan demikian dapat dipahami sertifikasi adalah bukti formal sebagai pengakuan yang diberikan guru dan dosen sebagai tenaga profesional.

2.2  Etos Kerja Guru
2.2.1 Pengertian Etos Kerja
      Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, kata “etos” berasal dari bahasa Yunani (ethos) yang bermakna watak atau karakter. Maka secara lengkapnya “etos” ialah : “Karakteristik dan sikap, kepercayaan serta kebiasaan, yang bersifat khusus tentang seorang individu atau sekelompok manusia”.Adapun kerja adalah sesuatu yang setidaknya mencakup tiga hal; (1) Dilakukan atas dorongan tanggung jawab, (2) Dilakukan karena kesengajaan dan perencanaan dan (3) Memiliki arah dan tujuan yang memberikan makna bagi pelakunya.
      Secara terminologis kata etos, yang mengalami perubahan makna yang
meluas. Digunakan dalam tiga pengertian yang berbeda yaitu:
a.        Suatu aturan umum atau cara hidup;
b.       Suatu tatanan aturan perilaku.atau penyelidikan tentang jalan hidup
c.        Seperangkat aturan tingkah laku.
      Dalam pengertian lain, etos dapat diartikan sebagai thumuhat yang
berkehendak atau berkemauan yang disertai semangat yang tinggi dalam rangkamencapai cita-cita yang positif. Sedangkan akhlak atau etos menurut Ahmad Aminadalah membiasakan kehendak.Etos adalah sikap yang tetap dan mendasar yangmelahirkan perbuatan-perbuatan dengan mudah dalam pola hubungan antaramanusia dengan dirinya dan diluar dirinya.
      Etos kerja Menurut Bernardin (2007:173), kinerja adalah sebagai catatan hasil keluaran pada fungsi kerja tertentu atauaktifitas selama periode waktu tertentu. Menurut Colquitt,LePine dan Wesson (2009:37), kinerja adalah nilai dari sekumpulan perilaku pegawai yang memberi kontribusi baik positif maupun negatif terhadap pencapaian tujuan organisasi. Menurut Mathis dan Jackson (2009:378), bahwa kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh karyawan. Menurut Irham Fahmi (2010:2), kinerja adalah hasil yang diperoleh oleh suatu organisasi baik organisasi itu berorientasi profit dan non profit yang dihasilkan selama satu periode waktu. Kinerja lebih menekankan pada hasil kerja seseorang.Hasil kinerja yang diperoleh diukur dengan melihat standar aturan yang telah ditetapkan pada suatu organisasi.Standar kerja yang ditetapkan organisasi merupakan dasar dalam melakukan penilaian kinerja seseorang.Setiap organisasi mempunyai standar tersendiri, sesuai dengan obyek kerja yang dilakukan.Standar kerja guru di sekolah dapat ditetapkan berdasarkan jumlah materi yang diajarkan dalam periode tertentu, jam mengajar, serta hasil belajar yang diperoleh siswa. Kinerja mempunyai hubungan erat dengan masalah.
      Jika rumah membutuhkan pondasi maka kerja membutuhkan etos.Berikut inidelapan alasan orang bekerja menurut Sinamo (2005)
                                          Tabel.1
No
Etos Kerja
Performance Kerja
1.
Kerja adalah rahmat
Penuh syukur
2.
Kerja adalah amanah
Penuh tanggung jawab
3.
Kerja adalah panggilan
Penuh integritas
4.
Kerja adalah aktualisasi
Penuh semangat
5.
Kerja adalah ibadah
Penuh kecintaan
6.
Kerja adalah seni
Penuh kreativitas
7.
Kerja adalah kehormatan
Penuh keunggulan
8.
Kerja adalah pelayanan
Kerendahan Hati

      faktor etos kerja dipandang sebagai suatu aspek yang penting karena melalui etos kerja ini dapat diciptakan kesadaran dari setiap pribadi terhadap eksistensinya serta kontribusi yang dituntut dalam rangka mencapai tujuan organisasi dan pribadinya.Menurut  penulis yang dimaksud dengan etos kerja dalam tulisan ini adalah usaha yang dilakukan untuk menciptakan keadaan disuatu lingkungan kerja yang tertib, berdaya guna dan berhasil guna melaui suatu sistem pengaturan yang tepat. Atau dengan kata lain etos kerja adalah ketaatan terhadap peraturan.
2.3  Profesionalisme Guru
2.3.1 Pengertian Profesionalisme Guru
Professional berasal dari kata profesi (profession) yang diartikan sebagai jenis pekerjaan yang khas yang mana memerlukan pengetahuan, keahlian atau ilmu pengetahuan yang digunakan dalam aplikasi untuk berhubungan dengan orang lain, instansi atau lembaga. Sadirman (1994 : 131) menjelaskan bahwa profesi diartikan sebagai suatu pekerjaan yang memerlukan pendidikan lanjutan didalam science dan teknologi yang digunakan sebagai perangkat dasar untuk diimplementasikan dalam berbagai kegiatan yang bermanfaat.
Profesi menunjuk pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggung jawab, dan kesetiaan terhadap pekerjaan itu.Sedangkan profesional menunjuk dua hal, yakni orangnya dan penampilan atau kinerja orang itu dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya. Sementara profesionalisme menunjuk kepada derajat atau tingkat penampilan seseorang sebagai seorang profesional dalam melaksanakan profesi yang mulia itu (Syamsudin :1999).
Dengan memperhatikan definisi tersebut, maka pengertian pendidik yang tertuang di dalam Undang-undang Republik Indonesia No.20 Tahuan 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dalam pasal 39 yaitu : Pasal (1) Tenaga kependidikan bertugas melaknsakan administrasi, pengelolaan, pengembangan, pengawasan, dan pelayaran teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan. Pasal (2), Pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Sebagai tenaga profesional, maka pendidik dikenal sebagai salah satu jenis dari sekian banyak pekerjaan (accupation) yang memerlukan bidang keahlian khusus, seperti dokter, insinyur, tentara, wartawan dan bidang pekerjaan lain yang memerlukan bidang keahlian yang lebih spesifik. Dalam dunia yang semakin maju, semua bidang pekerjaan memerlukan adanya spesialisasi, yang ditandai denganadanya standar kompetensi tertentu, termasuk guru sebagai profesi (Suparlan, 2006:73).
Guru secara professional merupakan profesi atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus karena jenis pekerjaan itu tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang yang dalam posisinya berada di luar bidang kependidikan, meskipun kenyataannya masih juga dilakukan oleh orang-orang di luar kependidikan. Akibatnya jenis profesi keguruan terkadang memiliki masalah yakni tidak dapat memberikan pelayanan yang maksimal kepada siswa dan masyarakat.
Guru professional adalah guru yang mengedepankan mutu dan kualitas layanan dan produknya, layanan guru harus memenuhi standarisasi kebutuhan masyarakat, bangsa, pengguna serta memaksimalkan kemampuan peserta didik berdasar potensi dan kecakapan yang dimiliki masing-masing individu. Guru harus memiliki keberanian berinovasi dalam pembelajaran dan mengembangkan pembelajaran bermutu, pembelajaran yang monoton harus segera diubah dengan pembelajaran dinamis dan bermakna. (Martinis Yamin, 2010 : 28).
Profesinalisme – professional orang yang mengerjakan sesuatu karena jabatan/ pekerjaan/ profesinya, bukan semata – mata karena kesengangan tetapi sebagai mata pencaharian ( Shadily, 1984:2774 ). Sebagai proses monopolisasi dan mengontrolpekerjaan (Berlant, 1975; Friedson, 1970)
Profesi guru menurut Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen harus memiliki prinsip-prinsip profesional seperti tercantum pada pasal 5 ayat 1, yaitu: ”Profesi guru dan dosen merupakan bidang pekerjaan khusus yang memerlukan prinsip-prinsip profesional sebagai berikut:
1. Memiliki bakat, minat, panggilan jiwa dan idealisme.
2. Memiliki kualifikasi pendidikan dan latar belakang pendidikan                    sesuai dengan bidang tugasnya.
3. Memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang                         tugasnya.
4. Mematuhi kode etik profesi.
5. Memiliki hak dan kewajiban dalam melaksanakan tugas.
6. Memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi                  kerjanya.
7. Memiliki kesempatan untuk mengembangkan profesinya secara                    berkelanjutan.
8. Memperoleh perlindungan hukum dalam rnelaksanakan tugas                      profesionalnya.
9. Memiliki organisasi profesi yang berbadan hukum”.

Lebih lanjut dalam PP No. 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pasal 28 disebutkan bahwa ”pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rokhani, serta memilki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.Menurut penulis profesional adalah sebutan orang yang menyandang suatu profesi yang diwujudkan dalam bentuk pekerjaan untuk bekerja sesuai dengan profesinya yang dilakukan seseorang untuk mencari sumber penghasilan kehidupan, diperoleh melalui keahlian dan kemahiran.
Menurut para ahli, profesionalisme menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya.Maister (1997) mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.
Profesi pendidik merupakan profesi yang sangat penting dalam kehidupan suatu bangsa. Hal ini tidak lain karena posisi pendidikan yang sangat penting dalam konteks kehidupan bangsa. Pendidik merupakan unsur dominan dalam suatu proses pendidikan, sehingga kualitas pendidikan banyak ditentukan oleh kualitas pendidik dalam menjalankan peran dan tugasnya di masyarakat. Oleh karena itu, upaya-upaya untuk terus mengembangkan profesi pendidik (guru) menjadi suatu syarat mutlak bagi kemajuan suatu bangsa, meningkatnya kualitas pendidik akan mendorong pada peningkatan kualitas pendidikan baik proses maupun hasilnya.

2.4   Konstruksi Sosial
2.4.1  Pengertian Konstruksi Sosial
Konstruksi Sosial merupakan teori sosiologi kontemporer yang berpijak pada sosiologi pengetahuan.Dalam teori ini terkandung pemahaman bahwa kenyataan dibangun secara social, serta kenyataan dan pengetahuan merupakan dua istilah kunci untuk memahaminya.Kenyataan adalah suatu kualitas yang terdapat dalam fenomena – fenomena yang diakui memiliki keberadaannya sehingga tidak tergantung pada kehendak manusia.Pengetahuan  adalah kepastian bahwa fenomena-fenomena itu nyata dan memilki karakteristik yang spesifik.

2.5  Kerangka Berfikir
  Kerangka berpikir merupakan inti sari dari teori yang telah dikembangkan yang dapat mendasari perumusan hipotesis.Teori yang telah dikembangkan dalam rangka memberi jawaban terhadap pendekatan pemecahan masalah yang menyatakan hubungan antar variable berdasarkan pembahasan teoritis.
      Sertifikasi guru Sejarah merupakan profesionalan guru yang mempunyai kemahiran dan keahlian dalam pembelajaran baik dari segi pembelajaran dikelas, penguasaan kelas, dan keefektifan dalam pembelajarannya .Guru professional mempunyai banyak pengalaman, wawasan dan pengetahuan untuk menghadapi pemecahan masalah dalam pembelajaran sejarah.Baik permasalahan dengan pemahaman siswa dalam menangkapa materi maupun dalam metode dan model pembelajaran yang digunakan.Guru sejarah yang telah disertifikasi harus meningkatkan keprofesionalan seorang guru dan peran pembelajaran sejarah di dalam kelas. Selain itu etos kerja guru Sejarah juga sangat berperan penting untuk kemajuan yang lebih baik, yang dapat mendukung pembelajaran. Dari beberapa sekolah yang sudah dipilih sesuai dengan criteria tertentu, maka akan diambilsampling guru sejarah yang telah disertiifikasi. Selanjutnya akan diamati bagaimana proses pembelajaran yang dilakukan guru- guru tersebut dikelas baik dari cara mengajarnya ataupun metode yang guru gunakan saat mengajar. Ketepatan waktu dan displin saat mengajar juga akan diamati untuk mendukung tingkat keprofesionalisme guru tersebut, serta kefektifan guru dalam mengajar dikelas. Dari bebearapa criteria pengamatan tersebut akan diambil kesimpulan bagaimana pemebelajaran yang dihasilkan oleh guru yang telah disertifikasi. Berikut adalah bagan kerangka berfikirnya:










Etos kerja Guru Sejarah yang sudah disertifikasi
 






KEGIATAN
Cara pembelajaran dikelas
Disiplin waktu saat mengajar
ke efektifan dalampembelajaran dikelas






Pembelajaran Sejarah
Profesionalisme
Kontruksi Sosial
 















Gambar 1. Kerangka Berpikir


III. METODE PENELITIAN
3.1  Pendekatan dan Rancangan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang diangkat, penelitian ini mempunyai tujuan untuk mendapatkan suatu gambaran tentang etos kerja Guru Sejarah yang sudah disertifikasi dalam pengembanganmutu profesional guru sejarah dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Untuk memahami hal itu, perlu dieliti secara mendalam tentangetos kerja Guru Sejarah yang telah disertifikasi dalam pengembangan kemampuan profesional guru sejarah, serta kontruksi guru sejarah terhadap program sertifikasi. Dengan demikian metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus.
Menurut Sugiyono (2010 : 15) Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada obyek yang alamiah (sebagai lawan dari eksperimen). Sebagai suatu upaya penelitian, studi kasus dapat memberi nilai tambah pada pengetahuan kita secara unik tentang fenomena individual, organisasi, sosial, dan politik.
Terdapat beberapa jenis metode penelitian kualitatif yang dapat digunakan untuk meneliti suatu kasus, namun pada penelitian ini, peneliti memilih menggunakan jenis metode penelitian diskriptif. Nazir dalam Prastowo (2012) menjelaskan bahwa metode deskriptif adalah suatu metode yang dihunakan untuk meneliti status sekelompok manusia, suatu obyek, suatu set kondisi, suatu system pemikiran, ataupun persitiwa masa sekarang. Penelitian diskriptif dimaksudkan untuk menggambarkan apa adanya tentang suatu variable , gejala, atau keadaan. Hubungannya dengan penelitian, metode deskriptif digunakan untuk menggambarkan keadaan etos kerja seorang guru yang telah di sertifikasi dalam mengembangkan tingkat keprofesionalisme.



3.2  Lokasi Penelitian
Penelitian ini mengambil lokasi di Kabupaten Magelang.Peneliti mengambil data di Kota Magelang karena lokasi tersebut merupakan tempat tinggal penulis. Sehingga akses untuk mencari informasi dan mengadakan hubungan dengan para guru diharapkan akan lebih mudah dan penulis juga mengambil sekolah yang berbeda dari letak keberadaan sekolah tersebut. Peneliti mengambil lokasi penelitian yang unik  antara lain dengan beberapa kriteria yaitu sekolah yang berkawasan dekat dengan akademi militer, sekolah yang berada dikawasan pinggiran kota, dan seoklah yang berada dikawasan perbatasan dengan DIY. Sekolah- sekolah tersebut antara lain untuk sekolah kawasan militer SMAN 1 Mertoyudan yang sekolahnya tepat berada di tengah tengah kompleks perumahan tentara dan pusat kegiatan militer. Sekolah yang berada dikawasan pinggiran kotayaitu SMAN 1 Kota Mungkid. Serta yang terakhir yaitu SMA yang berkwasan area perbatasan antara Magelang dan DIY yaitu  SMAN 1 Ngluwar. Sesuai dengan judul dan rumusan masalah yang ada sasaran penelitian dalam penelitian ini tentang etos kerja guru sejarah yang sudah disertifikasi.

3.3     Fokus Penelitian
Fokus penelitian merupakan pokok masalah yang menjadi perhatian dalam suatu penelitian.Yang menjadi fokus penelitian dalam penelitian ini adalah bagaimana etos kerja Guru Sejarah yang telah disetifikasi dalam pengembangan kemampuan profesional guru sejarah, dan kontruksi guru sejarah terhadap program sertifikasi.

3.4     Subyek Penelitian
        Sugiyono (2012) dalam bukunya menjelaskan bahwa didalam penelitian kualitatif tidak digunkanan istilah populasi ( seperti dalam penelitian kuantitatif) dikarenakan penelitian kualitatif berangkat dari kasus tertentu yang ada di situasi social tertentu dan hasil kajiannya tidak akan diberlakukan ke populasi tetapi ditransferkan ke tempat lain ppada situasi social yang memiliki kesamaan dengan situasi social pada kasus yang diteliti. Situasi social terdiri atas tiga elemen, yaitu tempat (place), pelaku ( actors),  dan aktivitas ( activity) ( Sugiyono, 2009). Seangkan situasi social yang diselidiki dalam penelitian ini adalah etos kerja guru sejarah pasca sertifikasi guru se- Kabupaten Magelang.Dalam penelitian kualitatif tidak menggunakan istilah responden, namun menggunakan istilah narasumber, informan, prtisipan, teman, dan guru dalam penelitian. Secara spesifik, subyek penelitian adalah informan, informan atau narasumber adalah orang yang bisa memberikan informasi- informasi utama yang dibutuhkan dalam penelitian ( Prastowo,2012)
         Pemilihan informan dalam penelitian ini memasuki siyuasi social tertentu kemudian melakukan observasi, wawancara kepada orang yang terlibat dalam situasi social yang dimasukkan tersebut yaitu guru sejarah yang telah disertifikasi.Penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono,2012). Untuk dapat menjadi seorang informan dalam sebuah penelitian harus memenuhi suatu kriteria khusus yang telah ditetapkan oleh peneliti.Demekian halnya dengan penelitian ini, peneliti menetapkan beberapa kriteria khusus kepada calon informan agar data yang diperoleh akurat. Beberapa kriteria tersebut antara lain :
a.  Mereka ( guru )  sejarah yang telah disertifikasi
b. Mengajar di sekolah ( SMA ) yang telah peneliti pilih
c.  Mereka ( guru ) yang dapat memberikan informasi dengan sebaik- baiknya dan sejujur- jujurnya.
d.                         Sehat jasmani dan rohani

3.5  Sumber Data
Pohan dalam Prastowo ( 2012) menjelaskan bahwa data adalah fakta,informasi atau keterangan. Dimana keterangan merupakan bahan buku yang perlu diolah sedemikian rupadan digunakan sebagai bahan pemecahan masalah atau sebagai bahan untuk mengungkapkan suatu gejala dan berguna sebagai alat pemecahan masalah atau merumuskan kesimpulan penelitian.Terdapat dua jenis data yang ditemui dilapangan, yaitu data kuantitatif dan data kualitattif. Sedangkan menurut asalnya,data dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu data primer dan data sekunder.
Data primer merupakan data yang diperoleh dan dikumpulkan dari sumber pertama, data yang ditemukan di lapangan secara langsung.data ini dapat diperoleh dari hasil observasi,wawncara maupun data dokumentasipada saat penelitian. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari sumber kedua, ketiga atau pihak lain. Contoh dari data sekunder misalya hasil penelitian oleh orang lain, data dari dinas, jurnal dan lain sebaginya.
Untuk penelitian yang mencari data social, keagamaan, dan pendidikan sumber sumber data tersebut ada berbagai jenis, seperti yang disebutkan oleh Pohan dalam Prastowo (2012) yaitu:
a.       Pribadi atau perorangan meliputi semua orang yang dianggap memiliki informasi berkaitan dengan masalah yang diteliti.
b.      Lembaga – lembaga, organisasi social, sekolah, kantor, dan sejenisnya.
c.       Proses kegiatan, peristiwa yang sedang berlangsung, contohnya kegiatan belajar mengajar, proses peradilan, interaksi social,upacara perkawinan, upacara ritual, dan lain sebaginya.
d.      Bahan- bahan dokumen, arsip, laporan, surat- surat keputusan, undang – undang, peraturan dan lain sebagainya.
e.       Kepustakaan, yaitu buku, kitab, majalah, artikel pada jurnal, Koran, dan bahan tulis lainnya.
f.       Peninggalan bersejarah, seperti kuil, candi, prasasti, monument, replica dan lain sebagainya.
Dalam pemilihan narasumber, objek atau lokai penelitian harus ditentukan oleh tujuan dan corak permasalahannya, dibawah ini merupakan table pedoman penentuan sumber data dan teknik penelitiannya, baik pada penelitian kuantitatif maupun kualitatif.

Tabel.2Pedoman Penentuan Sumber Data dan Teknik Penelitiannya
Data yang dibutuhkan
Sumber Data
Teknik Penelitian
Riwayat sepanjang perkembangan
Pribadi, seseorang
Wawancara
Pandangan
Pribadi, seseorang
Wawancara
Proses terjadi, peristiwa
Kejadian/peristiwa yang sedang berlangsung
Observasi
Dalil, teori
Keputusan
Telaah Pustaka
Undang- undang, peraturan
Dokumen
Telaah Dokumen
Sikap, pendapat, kemampuan
Populasi, sampel
Wawancara, angket, tes
Frekuensi Gejala
Gejala, kejadian
Checklist, tes
Sumber : Pohan dalam Prastowo ( 2012;206)

3.5.1        Informan
Informan merupakan seseorang yang diwawancarai untuk didapatkan keterangan dan data untuk keperluan informasi (Koentjaraningrat, 1997 : 130). Informan dalam penelitian ini adalah para guru-guru sejarah SMA yang telah disertifikasi di Kabupaten Magelang, antara lain :
1)      Biodata Guru SMAN 1 Mertoyudan yang menjadi subyek penelitian yaitu :
a.       Nama                                 : Sugiharto, S.Pd
Alamat                              : Gang Kantil 3 No. 17 Bayeman,                                                Kota Magelang
Tanggal Lahir                    : Surabaya. 14 Juli 1955
Riwayat Pendidikan         : SDN Wirunkotoarjo, SMP                                                                  Nahdatul Ulama Ponorogo,                                                                        SMEAN Kutoarjo, PG SLP                                                                      Semarang, D2 UTBBJ Surakarta,                                                   IKIP PGRI Wates
Riwayat Mengajar             : SMPN 1 Nggrabak, SMPN 2                                                             Kaliangkrik, SMPN 2 Secang,                                                        SMAN 1 mertoyudan
Lama Mengajar                 : 37 Tahun
Contac Person                   : 08562864376

b.      Nama                                 : Dra. Siti Fatonah
Alamat                              : Rambeanak 1 Rt02 Rw 01                                                                  Mungkid, Kabupaten Magelang
Riwayat Pendidikan         : SDN Pekojan Jakarta, SMP 32                                                           Jakarta,SPGNG Jakarta, IKIP                                                        Jakarta.
Latar Belakang Mengajar  : SMAN 1 Mertoyudan
Lama Mengajar                 : 25 Tahun
Contact Person                  : 081392460605

2)      Guru SMAN 1 Kota Mungkid  yang menjadi subyek penelitian yaitu :
a.       Nama                                 : Siti Haniah
Alamat                              : Nariban Progowati, Mungkid,                                                            Kabupaten Magelang.
Riwayat Pendidikan         : MI Progowati, SMPN 1 Blabak,                                                        SMAN 1 Kota Mungkid, IKIP                                                      Yogyakarta.
Latar Belakang Mengajar  : SMPN 2 Borobudur, SMPN 1 Atap                                                   Borobudur, SMAN 1 Mungkid.
Lama Mengajar                 : 18 Tahun
Contact Person                  : 081328108700

3)      Guru SMAN 1 Ngluwar yang menjadi subyek penelitian yaitu :
a.       Nama                                 : Puji Astuti
Alamat                              : Bendungan Sidoagung, Godean,                                                        Sleman, Yogyakarta.
Riwayat Pendidikan         : SD Muhamadyah Ngijon 1, SMP 1                                                    Godean, SMAN 1 Argomulyo,                                                      Universitas Negeri Yogyakarta.
Latar Belakang Mengajar  :  SMKN 2 Godean, SMAN 1 Ngluar
Lama Mengajar                 : 11 Tahun
Contact Person                  : 081229236202

3.6  Teknik Pengumpulan Data
3.6.1        Wawancara Mendalam
Esterberg dalam (Sugiyono, 2010 : 317) menyatakan wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu. Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara mendalam (in depth interview).Wawancara secara mendalam adalah wawancara yang mempunyai karakteristik berupa pertemuan langsung secara berulang-ulang antara peneliti dan informan untuk memperoleh data, karena wawancara merupakan sumber bukti yang esensial.
Wawancara mendalam dilakukan untuk mengetahui etos kerja guru-guru yang telah mengikuti program sertifikasi dalam meningkatkan mutu profesionalisme seorang guru.

3.6.2        Observasi Langsung
Nasution dalam (Sugiyono, 2010 : 310) menyatakan bahwa observasi dasar dari semua ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja menggunakan data yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi.Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini adalah observasi secara langsung dan termasuk ke dalam observasi yang bersifat pasif.Peneliti mengamati langsung kegiatan pembelajran dikelas yang dilakukan oleh guru yang telah disertifikasi. Mengamati pola dan tingkah laku guru yang telah disertifikasi  dalam etos kerja yang dilakukannya.

3.6.3        Kajian Dokumen
Kajian dokumen digunakan peneliti untuk mengumpulkan dan menyelidiki data-data tertulis dalam pembelajaran, seperti perangkat perencanaan pembelajaran, catatan-catatan saat pembelajaran, serta data tentang penelitian-penelitian terdahulu yang memiliki keterkaitan dengan penelitian ini. Pada penelitian ini, peneliti melakukan content analysis terhadap perangkat perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran (Tsabit, 2012 : 20). Teknik ini digunakan untuk mengetahui kegiatan guru-guru dalam kegiatan pembelajran dikelas yang dilakukan oleh guru yang telah disertifikasi. Dan cara kerja guru yang telah disertifikasi. Begitu pula dengan pola dan tingkah laku guru sertifikasi di masyarakat.
Dokumen menjadi sumber data untuk mengetahui etos kerja Guru Sejarah yang telah disertifikasi dalam pengembangan etos dan  kemampuan profesional guru sejarah. Dokumen yang digunakan meliputi penyusunan dan pengembangan silabus, Rencana Program Pembelajaran (RPP), menyusun bahan ajar berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), membahas materi esensial yang sulit dipahami, strategi/metode/ pendekatan/media pembelajaran, sumber belajar, kriteria ketuntasan minimal, pembelajaran remedial, soal tes untuk berbagai kebutuhan, menganalisis hasil belajar, menyusun program dan pengayaan.



3.7           Teknik Pemilihan Informan
Teknik pemilihan informan yang digunkan dalam penelitian ini adalah purposive sampling.Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampelsumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, ataumungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahiobjek dan situasi sosial yang diteliti (Sugiyono 2008 : 50). Dengan demikian pemilihan informan tidak berdasarkan kuantitas, tetapi kualitas dari informan terhadap masalah yang akan diteliti. Dalam pelaksanaan di lapangan guna pengumpulan data, pemilihan informan dapat berkembang sesuai dengan kebutuhan dan kemantapan peneliti didalam memperoleh data. Jadi yang menjadi kepedulian bagi peneliti kualitatif adalah tuntasnya perolehan informasi dengan keragaman variasi yang ada, bukan banyaknya sampel sumber data (Sugiyono 2008 :57).

3.8              Keabsahan Data
Dalam penelitian kualitatif , temuan atau data dapat dinyatakan valid apabila tidak ada perbedaan antara yang dilaporkan peneliti dengan apa yang sesungguhnya terjadi pada objek yang diteliti (Sugiyono, 2012 : 119). Sugiyono dalam Prastowo (2012) menejelaskan bahwa terdapat empat bentuk uji keabsahan data yaitu uji kredibilitas data ( validitas internal ), uji dependabilitas ( reliabilitas ) data, uji transferabilitas ( validitas eksternal / generalisasi ),uji konfirmabilitas.
1.      Uji Kredibilitas ( Validitas Internal )
Moleong dalam Prastowo (2012)  menjelaskan bahwa uji kredibilitas data memiliki dua fungsi, yaitu melaksanakan pemeriksaan sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuan kita dapat dicapai, mempertunjukan derajat kepercayaan hasil hasil penemuan kita dengan jalan pembuktian terhadap kenyataan ganda yang sedang diteliti. Keabsahan data merupakan syarat utama dalam penelitian kaulitatif.Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi. Moleong dalam Prastowo (2012) menjelaskan bahwa triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data tersebut untuk keperluan pengecakan atau sebagai pembanding terhadap data tersbut.
Pengujian validitas data dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik triangulasi (Sugiyono, 2010), triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari berbagai teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Prastowo (2012) menjelaskan bahwa tujuan dari penggunaan teknik ini bukan untuk mencari kebenaran tentang beberapa fenomena, tetapi lebih menitikberatkan pada peningkatan pemahaman peneliti terhadap apa yang telah ditemukan. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik triangulasi data  dengan tujuan menjadikan data yang diperoleh lebih konsisten, tuntas, dan pasti. Data diambil dari kegiatan pembelajran dikelas yang dilakukan oleh guru yang telah disertifikasi.
Selain menggunakan trianggulasi data, digunakan pula trianggulasi metode.Artinya untuk mengamati satu sumber digunakan beberapa metode yaitu wawancara, observasi langsung dan kajian dokumen. Perbedaan trianggulasi metode dengan trianggulasi data adalah tentang bagaimana cara data itu didapatkan. Melalui trianggulasi metode dari satu sumber, peneliti mencoba untuk mengambil data dengan berbagai macam metode.
Di dalam proses trianggulasi, informasi-informasi yang diperoleh dari data dan metode yang berbeda dibandingkan satu sama lain sebagai upaya konfirmasi. Data yang diperoleh dinyatakan valid atau terpercaya ketika hasil konfirmasi dari data yang berbeda dan melalui metode yang beragam menunjukkan keterangan yang sama.
2.      Uji transferabilitas ( validitas eksternal / generalisasi)
Dalam penelitian kualitatif tranferbilitas merupakan validitas eksternal, yaitu menunjukkan derajat ketetapan atau dapat diterapkannya hasil penelitian ke populasi dimana sampel tersebut diambil. Sugiyono (2012) menjelaskan bahwa nilai transferabilitas  berkenaan dengan pertanyan, hinnga mana hasil penelitian dapat diterapkan dalam situasi lain. Oleh karena itu, peneliti harus memberikan uraian yang rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya agar orang lain dapat memahami isi penelitian dengan dan dapat menerapkannya dalam situasi yang lain.
3.      Uji dependabilitas ( reliabilitas )
Uji dependabilitas dilakukan dengan melakukan audit terhadap keseluruhan proses penelitian ( Sugiyono, 2012;131) . proses penelitian harus dilaksanakan oleh peneliti dan dilakukan secara benar. Diperlukan auditor independen untuk melakukan keseluruhan penelitian.
4.      Uji konfirmabilitas ( objektivitas )
Penelitian dikatakan obyektif bila hasil penelitian telah disepakati oleh bnyak orang ( Sugiyono, 2012;131). Dalam uji ini harus sesuai antara hasil penelitian dan proses penelitian, apabila hasil penelitian tersebut merupkan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan maka penelitian itu telah memenuhi standar konfirmabilitas ( Sugiyono, 2012 )

4.                  Teknik Analisis Data
Analisis data kualitatif bersifat induktif, yaitu suatu analisis berdasarkan data yang diperoleh selanjutnya dikembangkan pada hubungan tertentu atau menjadi hipotesis. H.B. Sutopo (2006) menjelaskan bahwa dalam prosesnya, analisis penelitian kualitatif dilakukan dalam tiga macam kegiatan, yakni (1) analisis dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data, (2) analisis dilakukan dalam bentuk interaktif, sehingga perlu adanya perbandingan dari berbagai sumber data untuk memahami persamaan dan perbedaannya, dan (3) analisis bersifat siklus, artinya proses penelitian dapat dilakukan secara berulang sampai dibangun suatu simpulan yang dianggap mantap. Dengan demikian, analisis data dalam penelitian kualitatif merupakan upaya yang berlanjut, berulang, dan terus-menerus (Miles dan Huberman, 1992:20).
Analisis yang dilakukan pada penelitian ini menggunakan analisis model interaktif. Analisis interaktif terdiri atas tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan/verifikasi (Miles dan Huberman, 1992:16).
Matthew B. Miles dan A. Michael Huberman (1992: 16) menjelaskan bahwa reduksi data diartikan sebagai “proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan”. Setelah data dikumpulkan dengan teknik wawancara, observasi, dan analisis dokumen, dilakukanlah reduksi data. Reduksi data dalam penelitian ini terdiri atas beberapa langkah, yaitu (1) menajamkan analisis, (2) menggolongkan atau pengkategorisasian, (3) mengarahkan, (4) membuang yang tidak perlu dan (5) mengorganisasikan data sehingga simpulan-simpulan finalnya dapat ditarik dan diverifikasi  (Miles dan Huberman, 1992:16-17). Data yang dikumpulkan dipilih dan dipilah berdasarkan rumusan masalahnya, kemudian dilakukan seleksi untuk dapat mendeskripsikan rumusan masalah.
Setelah reduksi data, langkah berikutnya dalam analisis interaktif adalah penyajian data. Penyajian data yang paling sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah dalam bentuk teks naratif, yang merupakan rangkaian kalimat yang disusun secara logis dan sistematis, sehingga mampu menyajikan permasalahan dengan fleksibel, tidak “kering”, dan kaya data. Namun demikian, pada penelitian ini data tidak hanya disajikan secara naratif, tetapi juga melalui berbagai matriks, grafik, jaringan, dan bagan. Penyajian data dalam penelitian kualitatif dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang padu dan mudah diraih, sehingga peneliti dapat melihat apa yang sedang terjadi. Dengan demikian, peneliti lebih mudah dalam menarik simpulan (Miles dan Huberman, 1992:18).
Kegiatan analisis yang ketiga adalah menarik simpulan dan verifikasi.Langkah awal dalam penarikan simpulan dan verifikasi dimulai dari penarikan simpulan sementara.Penarikan simpulan hasil penelitian diartikan sebagai penguraian hasil penelitian melalui teori yang dikembangkan.Dari hasil temuan ini kemudian dilakukan penarikan simpulan teoretik (Miles dan Huberman, 1992:131).Kemudian simpulan perlu diverifikasi agar cukup mantap dan dapat dipertanggungjawabkan.Oleh karena itu, perlu dilakukan tinjauan ulang pada catatan di lapangan atau simpulan dapat ditinjau sebagai makna yang muncul dari data yang harus diuji kebenarannya, kekokohan, dan kecocokannya. Namun demikian, jika simpulan masih belum mantap, maka peneliti dapat melakukan proses pengambilan data dan verifikasi, sebagai landasan penarikan simpulan akhir. Ketiga alur dalam analisis data kualitatif apabila digambarkan adalah sebagai berikut,



Gambar 2. Komponen-Komponen Analisis Data Model Interaktif (Miles dan Huberman, 1992:20)

DARTAR PUSTAKA

Asmani, Jamal Ma’mur. 2010. Tips Menjadi Guru.Yogyakarta : Diva Prees.
Mulyasa.2007. Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru.Bandung :                                  Remaja Rosda Karya.
Mulyasa. 2008.Standar Kompetensi dan Sertifikasi Guru.Bandung : PT     Remaja Rosdakarya.
Moleong, Lexy J. 2011. Metodologi Penelitian Kualitatif.Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Soetjipto dan Raflis Kosasi. 2009. Profesi Keguruan. Jakarta : Rineka Cipta.
Sugiyono. 2010. Metode Penelitian Pendidikan.Bandung : Alfabeta.
Usman, Uzer. 2009. Menjadi Guru Profesional.Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Kunandar. 2001. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru .Jakarta : PT Raja Grafindo Persada
http://herwanparwiyanto.staff.uns.ac.id (diunduh pada tanggal 2 juli 2014)
Kurniawan, Bachtiar Dwi.Implementasi kebijakan sertifikasi guru dalam rangka meningkatkan  profesionalitas di Yogyakarta. 2011. Yogyakarta:Jurusan Ilmu Pemerintahan, Universitas Muhamadyah Yogyakarta. Online at http://jurnal.umy.ac.id/filePDF/Implementasi_ kebijakan_ sertifikasi_ guru_ dalam _rangka_meningkatkan  _profesionalitas di _Yogyakarta (diunduh pada tanggal 13 januari 2015)
Resmiyanto,Rahmat.2009. Model instrument pengukuran kinerja untuk guru guru pascasertifikasi dengan scientific and financial performance measure ( SFPM ).Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Ahmad Dahlan.Online at  http://journalpendidikan.ac.id/filePDF/Model_ instrument _pengukuran _kinerja _untuk _guru_ guru_ pascasertifikasi_ dengan _scientific_ and_ financial _performance_ measure _( SFPM ) ( diunduh pada tanggal 13 januari 2015)
Wahyudi, kalvin Edo,Supranoto, dan Suji. 2012. Jember. Measuring performance of teacher certification program.Ilmu Sosial dan Politik Universitas Jember. Vol. 19 No. 3 September 2012 online at http://journalnasional.ac.id/filePDF/Measuring _performance_ of teacher_ certification _program( diunduh pada tanggal 13 januari 2015)
Musofa. 2007. Yogyakarta.Upaya pengembangan profesionalisme guru di Indonesia.jurnal ekonomi dan pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta. Vol. 4 No. 1. April 2007 online at http://jurnalekonomiuny.ac.id/filePDF/ Upaya _pengembangan profesionalisme_ guru _di _Indonesia (diunduh pada tanggal 13 januari 2015)
Rianti,Rini. 2014.Semarang. Peran musyawarah guru mata pelajaran ( MGMP) sejarah dalam pengembangan profesionalisme guru sejarah sma di kabupaten rembang.Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang.

Wulan, Sarah.2013.Hubungan Disiplin dengan kinerja guru SMAN di tiga kecamatan depok .jurnal STIE ISM. Volume 1 Nomor 2 Juli-Agustus 2013( diunduh pada tanggal 13 januari 2015)

CONTOH SURAT PERSETUJUAN UNGGAH KARIL UT

PERSETUJUAN UNGGAH KARYA ILMIAH
Kami yang bertandatangan di bawahini,Suripto, S,E. M,Si. Akt.,selakupembimbingkaryailmiahdarimahasiswa ;
Nama                           : IrdatamaSantiaAnindita
NIM                            : 018680547
Program Studi             : S1 Akuntansi
UPBJJ                         : UT Semarang
Menyatakanbahwakaryailmiahdarimahasiswatersebut di atasdenganjudul “MEMBANGUN PEREKONOMIAN KABUPATEN BREBES MELALUI INDUSTRI PARIWISATA BAHARI (PAR’IN)” layakuntukdiunggahkeaplikasiKaryaIlmiahUniversitas Terbuka dengantelahmemperhatikanketentuanpenulisankaryailmiahsesuaipanduan yang telahditetapkandanketentuan anti plagiasi.
Demikianpersetujuanini kami berikan.
Pembimbing


Suripto, S,E. M,Si. Akt.

CONTOH KARIL UT

PERAN AKUNTANSI DALAM PERKEMBANGAN EKONOMI
 DI INDONESIA TAHUN 2013

Noorina Hartati, S.E., M.Sc.
Yasir Riady, M.Hum
UPBJJ UT-Jakarta
Kompleks UNJ Jl. Pemuda Rawamangun Jakarta Timur 13220,
telp. (021) 4751172,  4893638 fax. (021) 4701577



Abstract: Recently the economic development in Indonesia, accounting is expected to get along with these developments. This is because the accounting functions as a provider of information for making decision in economic. In 2013, economic growth was 6.8%, this is reason why it is increased by investment to 11.2%. Therefore, accountants are expected to be more responsive to seize opportunities on the rate of economic growth. This is to maintain the confidence of stakeholders in the accounting profession.
Economic globalization is characterized by the emergence of multinational corporations who conduct cross-border transactions. International transactions must be supported by global accounting standards that can be compared. Global accounting standards referred to the International Financial Accounting Standards (IFRS). This is a challenge faced by the profession of accounting. Therefore, the convergence of IFRS is a real step to addressing these challenges.
Key Words :Economic Growth, International Trading, Global Accounting Standard, IFRS

Abstrak: Seiring dengan perkembangan ekonomi di Indonesia, akuntansi diharapkan mampu mengikuti perkembangan tersebut. Hal ini dikarenakan akuntansi berfungsi sebagai penyedia informasi untuk pengambilan keputusan ekonomi. Pada tahun 2013, target pertumbuhan ekonomi adalah 6,8%. Hal ini disebabkan oleh investasi yang meningkat menjadi 11,2%. Oleh karena itu, akuntan diharapkan lebih responsif untuk menangkap peluang terhadap laju perkembangan ekonomi. Hal ini untuk menjaga kepercayaan stakeholders  terhadap profesi akuntan.
Globalisasi ekonomi ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan multinasional yang melakukan transaksi antar-negara. Transaksi internasional ini harus didukung oleh standar akuntansi global yang dapat diperbandingkan. Standar akuntansi global yang dimaksud adalah International Financial Accounting Standards (IFRS). Hal ini merupakan tantangan yang dihadapi oleh profesi akuntan. Oleh karena itu, konvergensi IFRS merupakan langkah nyata untuk menyikapi tantangan tersebut.
Kata kunci: perkembangan ekonomi, perdagangan internasional, standar akuntansi global, IFRS




I.                   PENDAHULUAN
Seiring dengan perkembangan ekonomi di Indonesia, akuntansi diharapkan mampu mengikuti perkembangan tersebut. Hal ini dikarenakan akuntansi berfungsi sebagai penyedia informasi untuk pengambilan keputusan ekonomi. Pada tahun 2013, target pertumbuhan ekonomi adalah 6,8%. Hal ini disebabkan oleh investasi yang meningkat menjadi 11,2%. Oleh karena itu, akuntan diharapkan lebih responsif untuk menangkap peluang terhadap laju perkembangan ekonomi. Hal ini untuk menjaga kepercayaan stakeholders  terhadap profesi akuntan.
Akuntansi merupakan proses pencatatan, pengikhtisaran, dan pengelompokkan transaksi-transaksi keuangan yang berguna dalam proses pengambilan keputusan ekonomi. Peran akuntansi dalam ekonomi secara global tidak dapat dianggap remeh karena berhubungan dengan kepercayaan stakeholder. Pada tahun 2012, Indonesia sudah menerapkan konvergensi ke IFRS, sehingga akan berpengaruh terhadap laporan keuangan emiten yang dipengaruhi oleh standar akuntansi yang digunakan. Dari local GAAP menuju IFRS, meskipun masih not fully compliance. Hal ini juga berlaku untuk auditing.
Dalam era globalisasi,  ekonomi Indonesia semakin kompleks. Akuntansi memegang peranan penting dalam perekonomian karena dalam setiap pengambilan keputusan yang bersifat keuangan harus berdasarkan informasi akuntansi. Kondisi ini menyebabkan akuntansi menjadi suatu profesi yang sangat dibutuhkan dalam dunia perekonomian.
Globalisasi ekonomi ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan multinasional yang melakukan transaksi antar-negara. Transaksi internasional ini harus didukung oleh standar akuntansi global yang dapat diperbandingkan. Standar akuntansi global yang dimaksud adalah International Financial Accounting Standards (IFRS). Hal ini merupakan tantangan yang dihadapi oleh profesi akuntan. Oleh karena itu, konvergensi IFRS merupakan langkah nyata untuk menyikapi tantangan tersebut.

II.                PEMBAHASAN
A.    Perkembangan Ekonomi 2013
Menkeu, Agus Martowardojo tetap meyakini pertumbuhan ekonomi 2013 dapat mencapai kisaran 6,8% walaupun target tersebut dirasakan terlalu tinggi akibat kondisi perekonomian global yang masih diliputi ketidakpastian. Menurut menkeu, untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah mengupayakan percepatan penyerapan anggaran serta mendorong keterlibatan BUMN dan swasta dalam pembangunan proyek yang tercantum dalam masterplan percepatan pembangunan dan perluasan ekonomi Indonesia (MP3EI). Selain itu, pemerintah akan memperbaiki iklim investasi dan membangun infrastruktur, meningkatkan industri hilirisasi, memberikan insentif kepada para pelaku usaha serta menaikkan batas penghasilan tidak kena pajak menjadi Rp 24 juta per tahun yang dapat meningkatkan konsumsi masyarakat agar ekonomi makin tumbuh.
Jakarta (ANTARA News) - Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution menilai tantangan menjaga ekonomi nasional pada 2013, akan lebih berat dibanding 2012 seiring dengan kondisi global yang belum kondusif. "Ekonomi Indonesia cukup stabil pada tahun ini. Pada 2013, tantangannya lebih berat untuk menjaga kondisi ekonomi tetap stabil seperti saat ini menyusul ekonomi eksternal yang masih belum kondusif," ujar Darmin di Komisi XI DPR di Jakarta, Selasa. Ia menambahkan, meski ekonomi AS menunjukan tanda-tanda perbaikan namun kondisinya masih berjalan lambat dan belum berpengaruh signifikan.
Menurut Nugraha, mengingat peran ekonomi zona Euro dan negara maju lainnya yang dominan, tentu tidak dapat dihindari bahwa situasi ekonomi yang suram ini akan mewarnai perekonomian global secara keseluruhan. Hal ini telah ditunjukan dengan melambatnya pertumbuhan ekonomi Republik Rakyat Tiongkok (RRT) pada kuartal kedua 2012 menjadi sebesar 7.6% (year-on-year) dibandingkan kuartal sebelumnya sebesar 8.1%. Sebagai kekuatan ekonomi yang menyumbang seperlima dari output dunia, menurunnya pertumbuhan ekonomi RRT akan berdampak cukup besar terutama bagi kawasan Asia yang selama ini telah menjadi motor pertumbuhan ekonomi dunia.
Pada tingkat nasional, Indonesia sebenarnya telah menunjukan ketahanan ekonomi yang cukup mapan. Selama krisis ekonomi global 2009, Indonesia mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi sebesar 4.5%, disaat ekonomi dunia mengalami kontraksi 0.8%. Namun meskipun demikian, Indonesia tetap tidak imun terhadap memburuknya kondisi ekonomi global saat ini. pertumbuhan kuartal pertama tahun 2012 telah menunjukkan perlambatan menjadi 6.3% yang antara lain dikarenakan menurunnya tingkat ekspor ke manca negara (Nugraha, 2011).
Sebagai salah satu sasaran pembangunan dalam RKP 2013, perekonomian nasional diharapkan mampu tumbuh lebih baik pada tahun 2013 yang ditandai dengan harapan mulai pulihnya perekonomian global. Pemulihan ini akan berdampak positif pada meningkatnya volume perdagangan dunia, yang secara tidak langsung juga akan meningkatkan permintaan akan barang ekspor dari negara-negara tujuan ekspor Indonesia. Koordinasi yang semakin baik antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil diharapkan mampu mengendalikan laju inflasi pada tingkat yang stabil sehingga akan meningkatkan daya beli masyarakat, yang berarti pula peningkatan pada konsumsi masyarakat (Nota Keuangan dan RAPBN 2013).
Meningkatnya ekspor dan konsumsi masyarakat tersebut pada gilirannya akan meningkatkan kinerja investasi dan impor. Dengan pertimbangan arah kebijakan ekonomi makro dan lingkungan eksternal internal, pertumbuhan ekonomi pada tahun 2013 diperkirakan mencapai 6,8 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut diperkirakan didorong oleh konsumsi masyarakat dan pemerintah, serta PMTB/investasi. Dari sisi produksi, sektor pertanian, sektor industri pengolahan, sektor konstruksi, sektor perdagangan, hotel, dan restoran, serta sektor pengangkutan dan komunikasi diperkirakan masih tetap menjadi sektor pendorong pertumbuhan ekonomi (Nota Keuangan dan RAPBN 2013).
Perubahan mendasar yang terjadi pada perkembangan ekonomi di tahun 2013 adalah diperkirakan terjadinya pergeseran dalam sumber pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Diharapkan pada tahun 2013 investasi menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Hal tersebut tercermin dalam angka kontribusi investasi pada tahun 2013 yang mengalami peningkatan tinggi bahkan melebihi kontribusi konsumsi masyarakat.Konsumsi masyarakat yang selama ini selalu menjadi kontributor atau penyumbang terbesar dalam pertumbuhan ekonomi, pada tahun 2013 perannya mulai tergeser oleh investasi/PMTB yang semakin meningkat (Nota Keuangan dan RAPBN 2013).
Ketika  kita  merujuk  pada  pada  Rencana  Pembangunan  Jangka  Menengah  2010-2014, terlihat bahwa 7 dari 11 prioritas nasional terkait erat dengan kepentingan ekonomi. Keputusan Presiden  No.32  Tahun  2011  mengenai  MP3EI  bahwa  menetapkan  target  untuk  menjadikan Indonesia menjadi negara maju pada tahun 2025. Sebuah target yang ambisius yang memerlukan strategi yang ambisius pula. Jika kita mengacu pada RPJMN dan Keppres No. 31 Tahun 2011 tersebut, terlihat bahwa bidang ekonomi menjadi salah satu prioritas kepentingan nasional yang harus dicapai. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana menformulasikan kebijakan luar negeri dan diplomasi yang efektif untuk merealisasikan sasaran tersebut? (Nugraha, 2011)

B.     Perdagangan Internasional
Perdagangan internasional adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain. Di banyak negara, perdagangan internasional menjadi salah satu faktor utama untuk meningkatkan GDP. Perdagangan internasional pun turut mendorong industrialisasi, kemajuan transportasi, globalisasi dan kehadiran perusahaan multinasional. (wikipedia)
Dari sisi perdagangan internasional, kinerja ekspor-impor mengalami peningkatan pertumbuhan, yaitu sebesar 11,7 persen (yoy) dan 13,5 persen (yoy). Kondisi perekonomian global di tahun 2013 diharapkan mengalami pemulihan. Dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi global, volume perdagangan dunia kembali akan meningkat sehingga secara tidak langsung juga akan meningkatkan ekspor Indonesia ke beberapa negara sebagai pasar tujuan ekspor Indonesia. Sejalan dengan kinerja ekspor, impor juga mengalami peningkatan. Impor barang modal dan bahan baku masih diperlukan untuk menunjang kegiatan investasi dan sektor produksi. Sementara itu, sebagian konsumsi masyarakat juga masih memerlukan impor barang konsumsi meskipun persentasenya relatif kecil. (Nota Keuangan dan RAPBN 2013)
Fokus kebijakan ekspor terbagi dalam 3 (tiga), yaitu (1) peningkatan diversifikasi pasar tujuan ekspor, berupa (a) peningkatan kualitas promosi dan kelembagaan ekspor, (b) pengembangan pasar dan informasi ekspor, (c) peningkatan peran dan kemampuan diplomasi perdagangan internasional, (d) peningkatan kerjasama dan perundingan ASEAN, (e) peningkatan kerjasama dan perundingan bilateral, serta (f) pengembangan promosi dan citra; (2) peningkatan kualitas dan keberagaman produk ekspor, berupa (a) pengembangan produk ekspor dan ekonomi kreatif, (b) pengembangan standardisasi bidang perdagangan, (c) pengembangan SDM bidang ekspor, dan (d) koordinasi peningkatan dan pengembangan ekspor; dan (3) peningkatan fasilitasi ekspor, berupa (a) dukungan sektor perdagangan terhadap pengembangan kawasan ekonomi khusus, (b) pengelolaan fasilitasi ekspor dan impor, (c) peningkatan pengamanan dan perlindungan akses pasar, (d) pengembangan fasilitasi perdagangan luar negeri daerah, (e) perumusan kebijakan dan pengembangan teknologi informasi kepabeanan dan cukai, (f) perumusan kebijakan dan bimbingan teknis fasilitas kepabeanan, (g) koordinasi pengembangan dan penerapan sistem national single window (NSW) dan ASEAN single window (ASW), (h) koordinasi pengembangan kerjasama ekonomi dan pembiayaan Eropa, Afrika, dan Timur Tengah, (i) koordinasi pengembangan kerjasama ekonomi dan pembiayaan Asia, serta (j) koordinasi pengembangan kerjasama ekonomi dan pembiayaan regional (ASEAN dan APEC). (Nota Keuangan dan RAPBN 2013)
Dengan  hanya  mengandalkan  permintaan  domestik  tentu  tidak  akan  cukup  untuk mengantarkan  Indonesia  menjadi  negara  maju.  Untuk  itu,  perdagangan  internasional  diperlukan  untuk  mengatasi  keterbatasan  ekonomi  nasional  untuk  menciptakan pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan. Sepanjang tahun 2010-2011, ditandai dengan tercapainya beberapa rekor ekspor bulanan Indonesia sebelum akhirnya melambat  pada tahun 2012 dikarenakan pengaruh ekonomi global.  Namun setidaknya hal tersebut menunjukkan  potensi  ekspor  Indonesia  yang  tinggi  dan  untuk  itu,  Indonesia  memiliki kepentingan besar untuk menjaga tetap terbukanya akses pasar di negara mitra dagangnya. Belajar dari pengalaman sebelumnya, krisis ekonomi global kerap diikuti oleh merebaknya kebijakan perdagangan proteksionis. Bahkan laporan  monitoring  yang  dilakukan  WTO pada mulai Mei 2012, menunjukkan telah terdapat peningkatan dan akumulasi kebijakan proteksionis. Hal ini semakin menegaskan perlunya Indonesia meningkatkan trade policy intelligence dalam diplomasi ekonominya. (Kompas, 2011)
Diplomasi  abad  ke-21  bercirikan  dengan  semakin  meningkatnya  interdependensi  antar negara.  Thomas  Freidman  menggambarkan  globalisasi  kontemporer  sebagai  ‘farther,  faster, cheaper and deeper’ .  Globalisasi terjadi hampir di semua aspek kehidupan mulai dari ekonomi, militer, budaya dan juga lingkungan. Sehingga saat ini tidak dapat dihindarkan bahwa kerja sama  dan kolaborasi antar-negara menjadi prasyarat utama tercapainya tatanan global yang mapan.
C.     Standard Akuntansi Global
Globalisasi ekonomi ditandai dengan munculnya perusahaan-perusahaan multinasional yang melakukan transaksi antar negara. Transaksi internasional ini harus didukung oleh standar akuntansi global yang dapat diperbandingkan. Akuntansi berfungsi sebagai penyedia informasi untuk pengambilan keputusan ekonomi. Oleh karena itu, organisasi profesi akuntansi gencar menggalakkan konvergensi IFRS.
Gaung IFRS sudah santer terdengar di dunia akuntansi, bahkan Indonesia tak ketinggalan untuk berpartisipasi dalam implementasi IFRS, meskipun belum menerapkannya tetapi rencananya tahun 2012. Dulunya digalakkan standardisasi, namun gagal karena banyak negara yang tidak mau menggunakan satu standar yang sama secara global karena perbedaan budaya dan latar belakang, kemudian mengarah ke harmonisasi yang mentolerir adanya perbedaan dan mengutamakan keharmonisan dalam penerapan standar akuntansi antar negara. Kemudian, menuju konvergensi (pengerucutan) IFRS yang mengarah pada implementasi IFRS secara serempak di seluruh dunia. Seperti yang dinyatakan oleh Kusuma (2007), pada awal pembentukannya, “jiwa” IAS yang ditanamkan oleh IASC adalah standardisasi. Namun, upaya standardisasi ini gagal. Akhirnya, beralih pada upaya harmonisasi yang berbeda “jiwa” dengan standardisasi. Rupanya, harmonisasi lebih diminati oleh dunia internasional. Bahkan, sekarang sedang digalakkan konvergensi menuju penggunaan standar akuntansi global yang seragam, yaitu IFRS.
Namun, semua itu pasti ada plus-minusnya. seperti kita tahu bahwa negara amerika sebagai negara adikuasa yang sangat berpegang teguh pada rule-based accounting standards, yaitu standar akuntansi yang sangat ketat yang kita kenal dengan nama US-GAAP. Amerika belum mau bersatu dengan negara-negara lain di dunia karena merasa bahwa standarnya jauh lebih bagus daripada negara lain. Tetapi kemudian dunia kompak untuk menggalakkan adopsi IFRS (principle-based accounting standards) yaitu standar akuntansi yang lebih longgar dan yang lebih banyak di sukai dan diharapkan dapat diterapkan secara harmonis di seluruh dunia. Keseragaman standar ini dapat meningkatkan perdagangan internasional yang mengarah kepada kerja sama yang baik antara negara yang satu dengan negara yang lain. Namun, hal ini dapat ditunggangi motivasi politik karena laporan keuangan suatu negara dapat diketahui dan dipahami oleh negara lain. Ancaman ini terutama untuk negara maju yang ingin menguasai negara berkembang, hal ini dapat memicu penjajahan kolonial terulang lagi. Karena itu diperlukan integritas yang tinggi dan kesadaran banyak pihak.

D.    Peran Akuntansi dalam Perkembangan Ekonomi di Indonesia Tahun 2013
Akuntansi merupakan proses pencatatan, pengikhtisaran, dan pengelompokkan transaksi-transaksi keuangan yang berguna dalam proses pengambilan keputusan ekonomi. Peran akuntansi dalam ekonomi secara global tidak dapat dianggap remeh karena berhubungan dengan kepercayaan stakeholder. Pada tahun 2012, Indonesia sudah menerapkan konvergensi ke IFRS, sehingga akan berpengaruh terhadap laporan keuangan emiten yang dipengaruhi oleh standar akuntansi yang digunakan. Dari local GAAP menuju IFRS, meskipun masih not fully compliance. Hal ini juga berlaku untuk auditing.
Dalam era globalisasi,  ekonomi Indonesia semakin kompleks. Akuntansi memegang peranan penting dalam perekonomian karena dalam setiap pengambilan keputusan yang bersifat keuangan harus berdasarkan informasi akuntansi. Kondisi ini menyebabkan akuntansi menjadi suatu profesi yang sangat dibutuhkan dalam dunia perekonomian.
Perkembangan profesi akuntansi  maju pesat sejak tahun 1985, berbarengan dengan BEJ. Bunga bank yang tinggi mendorong orang untuk berinvestasi. Persaingan antar perusahaan mendorong pengusuha untuk memutar otak untuk merumuskan strategi pemasaran yang paling jitu untuk mengusai pasar. Hal ini tentunnya para pengusaha sangat membutuh informasi akuntansi yang handal, akurat dan reliable dalam rangka pengambilan keputusan.
Akuntansi mengalami perkembangan pesat seiringan dengan perkembangan surat-surat berharga, khususnya saham di pasar modal. Dalam bertransaksi, para investor maupun calon investor menggunakan informasi akuntansi untuk membuat prediksi-prediksi dalam mengambill keputusan bisnis.
Globalisasi menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha. Good Corporate Governance, tata kelola perusahaan yang baik dapat mengatasi hal tersebut. Good Corporate Governance tidak hanya berfokus pada profit, tapi juga pada stakeholder. Oleh karena itu, informasi akuntansi yang transparan, akuntabel, handal dan akurat sangat dibutuhkan baik organisasi swasta maupun organisasi sektor publik.

III.             SIMPULAN
Pada tahun 2013, Indonesia berpeluang untuk turut bersaing dalam perdagangan multinasional yang melibatkan transaksi-transaksi antar-negara. Transaksi internasional semakin rumit. Akuntansi berperan penting dalam perekonomian multinasional yang ditandai adanya perdagangan internasional 2013, karena sebagai dasar pengambilan keputusan ekonomi. Oleh karena transaksi-transaksi yang dicatat sudah multinasional yang melibatkan antar negara, maka akuntansi harus menggunakan standar akuntansi internasional yang diakui oleh negara-negara, yaitu IFRS (International Financial Reporting Standards).  Akuntansi tidak boleh dianggap remeh karena berkaitan dengan kepercayaan stakeholders.
Dalam era globalisasi,  ekonomi Indonesia semakin kompleks. Akuntansi memegang peranan penting dalam perekonomian karena dalam setiap pengambilan keputusan yang bersifat keuangan harus berdasarkan informasi akuntansi. Kondisi ini menyebabkan akuntansi menjadi suatu profesi yang sangat dibutuhkan dalam dunia perekonomian.
Akuntansi mengalami perkembangan pesat seiringan dengan perkembangan surat-surat berharga, khususnya saham di pasar modal. Dalam bertransaksi, para investor maupun calon investor menggunakan informasi akuntansi untuk membuat prediksi-prediksi dalam mengambill keputusan bisnis.





DAFTAR PUSTAKA
Friedman, T. L. (1999). The Lexus and the Olive Tree: Understanding Globalization. New York: Farrar, Straus, and Giroux.

Kusuma, Indra Wijaya. 2007. Pengadopsian International Financial Reporting Standards: Implikasi untuk Indonesia. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar. Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Nugraha, Judha. 2011. Diplomasi Ekonomi Indonesia, G20, dan Tantangan Global Tahun 2013.

Republik Indonesia. 2011. Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Inodnesia (MP3EI). Jakarta: Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Republik Indonesia. 2013. Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Jakarta





 BUKA JASA PEMBUATAN KARIL WA 081902465337

PROSES PENYUSUNAN KARIL UT

Inisiasi 1

Ruang Lingkup
Ruang lingkup karya ilmiah tergantung pada program studi. Untuk mahasiswa Program studi Akuntansi (EKSI4560) lebih berfokus pada masalah analisis laporan keuangan, auditing, pasar modal, investasi dan sebagainya. Karya ilmiah yang Anda tulis bisa berupa hasil penelitian atau juga bisa berupa hasil pemikiran.

Pemilihan topik:
Untuk memilih dan menemukan  topik, bisa dilakukan dengan  mempertimbangkan hal berikut:
1. pengalaman pribadi dan kehidupan sehari-hari
2. media massa
3. kebutuhan memecahkan masalah

Pembuatan latar belakang permasalahan
 Latar belakang masalah  menyajikan gambaran yang dapat menjelaskan mengapa  kita melakukan peneltian atau mengupas tentang suatu fenomena.  Biasanya diuraikan dlaam bentuk deduksi, yaitu dimulai dengan hal yang umum  dan diakhiri dengan pembatasan masalah. Sda dua model yang dapat digunakan  di dalam  membuat latar belakang masalah, yaitu :
1. menguraikan adanya kesenjangan antara kondisi nyata  dengan kondisi  ideal; Contoh: jika ingin menggambarkan  tentang kondisi kartu sehat di Indonesia, maka dapat digambarkan tentang kondisi nyata masyarakat miskin  di Indonesia yang semakin meningkat dan adanya ketimpangan pelayanan antara masyarakat miskin dan yang kaya ketika meminta pelayanan kesehatan. Uraian ini kemudian dibandingkan dengan norma atau aturan yang berlaku umum, yaitu hak warga negara  untuk memperoleh pelayanan kesehatan tanpa pandang bulu, serta kebijakan pemerintah di bidang kesehatan.
2. menggambarkan perkembangan teori atau suatu kondisi obbjektif tanpa membandingkannya dengan kondisi normatif.  Misalnya masih tentang kondisi kartu sehat di Indonesia, kita hanya mennggambarkan karakteristik suatu gejala secara lebih rinci. Misalnya jumlah orang miskin yang semakin meningkat, serta pelayanan yang  buruk  dalam bidang kesehatan, tanpa membandingkannya dengan norma atau aturan yang berlaku umum, yaitu hak warga negara  untuk memperoleh pelayanan kesehatan tanpa pandang bulu, serta kebijakan pemerintah di bidang kesehatan.

Pada bagian ini, kita dapat memberikan gambaran kondisi objektif dengan menggunakan alat bantu 5W dan 1H, yaitu:
What;  yaitu: apa yang sedang terjadi
 Who;  siapa yang mengalaminya
 When;  kapan terjadinya
 Where; dimana terjadinya
How:  Bagaimana terjadinya

Kelima alat bantu tersebut kita susun sebagai satu rangkaian  cerita yang tidak terpisah
Jika mengguna

Perumusan Masalah:
Pada dasarnya, perumusan masalah  merupakan penggambaran yang tidak terpisahkan dari paparan yang ada  pada latar belakang permasalahan.  Dalam bagian ini permasalahan sudah lebih terfokus.  Biasanya pada bagian akhir  dimunculkan dalam bentuk kalimat tanya. Contoh tentang kartu sehat tadi, di bagian ini digambarkan  tentang keluhan  masyarakat ketika mereka memanfaatkan kartu sehat. Bagian ini diakhiri dengan pertanyaan “bagaimana pemanfaatan kartu sehat  di puskesmas A?

Kajian pustaka
Kajian pustaka merupakan proses  kajian terhadap teori atau hasil studi terdahulu. Topiknya difokuskan pada  konsep utama yang kita gunakan. Kembali ke contoh kartu sehat maka, fokus kajian pustaka pada teori atau  hasil terdahulu  tentang  kebijakan  di bidang kesehatan dan pelayanan puskesmas.
Hasil dari kajian ini adalah formulasi dari konsep yang digunakan, dan teori apa yang tepat digunakan untuk menganalis fenomena yang kita angkat. Teori dan konsep utama inilah yang nantinya menjadi landasan berpikir kita dalam menganalisa permasalahan kita.

Latar Belakang Masalah:
Dalam pengertian sehari-hari yang dimaksud dengan “masalah” adalah suatu hambatan yang dialami dan membutuhkan pemecahan dengan cara yang benar dan tepat.Beberapa orang juga mengatakan bahwa masalah merupakan kesenjangan antara kondisi  yang diharapkan dan kenyataan yang dihadapi.
 





       
     

Kita lihat contoh sederhana berikut ini. . Pada awalnya manusia merasa kesulitan untuk bisa menghitung angka hingga sejuta. Dan berdasar kesulitan yang dihadapi , manusia mulai mencipta alat untuk emmbantu menghitung. Lahirlah sebuah alat yang disebut kalkulator. Seiring kemajuan jaman, dan semakin besarnya nilai nominal uang, maka kemampuan kalkulator tidak lagi bisa membantu manusia ketika jumlah yang dihitung mencapai milyaran atau bahkan triliunan. Dari kesulitan itulah akhirnya manusia mencipatakan alat yang lebih canggih yaitu komputer. Sekali lagi masalah yang dihadapi manusia pada akhirnya membawa kemajuan bagi manusia dengan diciptakannya alat yang kita kenal dengan komputer. Dengan demikian “masalah” bagi manusia tidak akan pernah berakhir, namun dengan adanya “masalah” tersebut maka manusia juga akan selalu berkembang.

Adapun bagaimana ketentuan penulisan karya ilmiah mahasiswa UT, silakan Anda pelajari  panduan karya ilmiah di website UT dengan langkah-langkah sebagai berikut:


  1. Buka website UT :  http://www.ut.ac.id
  2. Arahkan kursor ke Mahasiswa & Alumni 
  3. Geser kursor ke kanan lalu parahkan kursor ke bawah, pilih (klik) panduan Karya Ilmiah 

METODE PENYUSUNAN KARIL UT

METODE

Karya ilmiah adalah suatu karya yang memuat dan mengkaji suatu masalah tertentu dengan menggunakan kaidah-kaidah keilmuan. Artinya, karya ilmiah menggunakan metode ilmiah dalam membahas permasalahan, menyajikan kajiannya dengan bahasa baku dan tata tulis ilmiah, serta menggunakan prinsip-prinsip keilmuan yang lain seperti objektif, logis, empiris (berdasarkan fakta), sistemastis, lugas, jelas serta konsisten.
Metodologi:
- metode ------> cara yang tepat untuk melakukan sesuatu
- logos --------> ilmu atau pengetahuan
- metodologi --> cara melakukan sesuatu dengan menggunakan pikiran  secara seksama untuk mencapai
               suatu tujuan


Penentuan metode dan teknik menganalisis data juga akan menentukan hasil dari sebuah karya ilmiah, terutama yang berbentuk penelitian. Metode harus dibedakan dari teknik. Mengenai keduanya, Sudaryanto (2001) menyebutkan bahwa metode merupakan cara yang harus dilaksanakan, sedangkan teknik merupakan cara melaksanakan metode. Sebagai cara, teknik ditentukan oleh adanya alat yang dipakai. Tidak semua metode perlu dan relevan untuk digunakan dalam menganalisa data penelitian. Oleh karena itu, peneliti perlu berhati-hati dalam menentukan metode dan teknik analisanya.

Metode penelitian berhubungan erat dengan prosedur, teknik, alat, serta desain penelitian yang digunakan. Desain penelitian harus cocok dengan pendekatan penelitian yang dipilih. Prosedur, teknik,serta alat yang digunakan dalam penelitian harus cocok pula dengan metode penelitian yang ditetapkan. Sebelum penelitian dilaksanakan,peneliti perlu menjawab sekurang-kurangnya tiga pertanyaan pokok (Nazir, 1985) yaitu:
  1. Urutan kerja atau prosedur apa yang harus dilakukan dalam melaksanakan suatu penelitian?
  2. Alat-alat (instrumen) apa yang akan digunakan dalam mengukur ataupun dalam mengumpulkan data serta teknik apa yang akan digunakan dalam menganalisis data?
  3. Bagaimana melaksanakan penelitian tersebut? Jawaban atas ketiga pertanyaan tersebut memberikan kepada peneliti urutan-urutan pekerjaan yang terus dilakukan dalam suatu penelitian.

Hal ini sangat membantu peneliti untuk mengendalikan kegiatan atau tahap-tahap kegiatan serta mempermudah mengetahui kemajuan (proses) penelitian.

Metode penelitian menggambarkan rancangan penelitian yang meliputi prosedur atau langkah-langkah yang harus ditempuh, waktu penelitian, sumber data, serta dengan cara apa data tersebutdiperoleh dan diolah/dianalisis. Dalam prakteknya terdapat sejumlah metode yang biasa digunakan untuk kepentingan penelitian. Berdasarkan sifat-sifat masalahnya, Suryabrata (1983) mengemukakan sejumlah metode penelitian yaitu sebagai berikut:
  1. Penelitian Historis, yang bertujuan untuk membuat rekonstruksi masa lampau secara sistematis dan obyektif.
  2. Penelitian Deskriptif, yang bertujuan untuk membuat deskripsi secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta dan sifat populasi atau daerah tertentu.
  3. Penelitian Perkembangan, yang bertujuan untuk menyelidiki pola dan urutan pertumbuhan dan/atau perubahan sebagai fungsi waktu
  4. Penelitian Kasus/Lapangan, yang bertujuan untuk mempelajari secara intensif latar belakang keadaan sekarang dan interaksi lingkungan suatu obyek
  5. Penelitian Korelasional, yang bertujuan untuk mengkaji tingkat keterkaitan antara variasi suatu faktor dengan variasi faktor lain berdasarkan koefisien korelasi
  6. Penelitian Eksperimental suguhan, yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab akibat dengan melakukan kontrol/kendali
  7. Penelitian Eksperimental semu, yang bertujuan untuk mengkaji kemungkinan hubungan sebab akibat dalam keadaan yang tidak memungkinkan ada kontrol/kendali, tapi dapat diperoleh informasi pengganti bagi situasi dengan pengendalian
  8. Penelitian Kausal-komparatif, yang bertujuan untuk menyelidiki kemungkinan hubungan sebab-akibat, tapi tidak dengan jalan eksperimen melainkan dilakukan dengan pengamatan terhadap data dari faktor yang diduga menjadi penyebab, sebagai pembanding.
  9. Penelitian Tindakan, yang bertujuan untuk mengembangkan keterampilan baru atau pendekatan baru dan diterapkan langsung serta dikaji hasilnya.
(Sumber: Drektorat Tenaga Kependidikan, Ditjen PMPTK, 2008. Pendekatan, Jenis, Dan Metode Penelitian Pendidikan)

PEMBAHASAN
Bagian ini merupakan inti dari sebuah artikel atau karya ilmiah, terutama yang berasal dari hasil penelitian. Apa yang kita tuangkan dalam bagian ini tentunya tidak terlepas dari rumusan masalah yang sudah kita buat. Lalu apa bedanya dengan rumusan masalah yang ada? Dalam bagian pembahasan, kita mulai menggunakan teori, atau kajian pustaka yang sudah kita buat untuk mengupas permasalahan yang ada. Komponen ini yang sering kali terlupakan, karena kita seringkali terfokus hanya menampilkan hasil temuan (data). Materi pembahasan bisa bersumber dari hasil penelitian, merujuk pada pemikiran dari ahli di bidangnya, atau juga hasil pemikiran kita sendiri yang didasarkan pada teori yang ada. Adapun tahapan penulisan pembahasan dalam suatu karya ilmiah adalah sebagai berikut:
1. Menampilkan informasi latar belakang. Informasi ini dapat berupa tujuan, pertanyaan, atau hipotesis peneilitian.
2. Menampilkan ringkasan hasil/temuan penelitian. Dalam tahap ini dapat disebutkan kembali hasil-hasil pokok penelitian secara ringkas.
3. Memberikan komentar apakah hasil penelitian sesuai dengan hipotesis. Jika di antara hasil-hasil itu ada yang tidak cocok dengan hipotesis, penulis artikel perlu menjelaskan mengapa terjadi demikian, dan menjelaskan sebab-sebab diterima/ditolaknya hipotesis.
4. Menghubungkan dengan hasil penelitian terdahulu. Tujuan dari tahapan ini adalah untuk membandingkan hasil dan mencari dukungan untuk temuan anda sendiri.
5. Menjelaskan hasil yang diperoleh, terutama jika hasil tersebut tidak memuaskan. Penjelasan yang diberikan bisa berupa data, asumsi, prosedur, model analisis dsb, selain itu anda juga dapat menyampaikan keterbatasan/kelemahan.
6. Membuat generalisasi dari hasil yang diperoleh (implikasi). Dalam tahapan ini, penulis dapat membuat simpulan logis, di samping itu, generalisasi ini juga harus sesuai dengan prinsip-prinsip penalaran.
7. Memberikan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya.
(Sumber: Prof.Ir. Urip Santoso,S.Ikom, M.Sc, Ph.D., Teknik Penulisan dan Pembahasan Karya Ilmiah, Fakultas Pertanian UNIB)

Note: Panduan Karya Ilmiah bagi mahasiswa UT selengkapnya dapat dilihat pada www.ut.ac.id pada direktori Mahasiswa dan Alumni, atau copy-paste link berikut ini:


yang terbaik

No whatsapp jasa karya ilmiah Universitas Terbuka

Untuk no whatsapp nya ganti di 085293796340 Untuk testimoni ada di galeri. Untuk yg lain2 gak tak post krna sdh mulai di rame pembahasan ter...